Resensi buku

Menguak jejak kisah penari tayub

Menguak jejak kisah penari tayub

Kesenian Tayub atau tarian rakyat, sejak dulu tumbuh subur di berbagai wilayah di tanah air terutama di pedesaan-pedesaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Blora, Bojonegoro, Nganjuk, Ngawi, Tulungangung hingga Madiun.

Sebagai tarian rakyat, kesenian Tayub tumbuh dari tengah masyarakat pinggiran maka tidak mengherankan jika Tayub gerakannya lebih bebas, terkadang lebih liar, artinya tidak ada pakem yang ketat.

Salah satu wilayah di Jawa Tengah yang terkenal sebagai daerah yang melahirkan kesenian Tayub serta penari Tayub, yang kemudian disebut sebagai ledhek, yakni Kabupaten Blora. Melalui novel "Ledhek dari Blora" sang pengarang, Budi Sardjono menguak kisah hidup para penari tayub tersebut.

Novel terbitan Araska Publishing pada 2018 itu dibuka dengan kisah Sam seorang jurnalis sebuah media ibukota yang mencoba menjadi "ghost writer" atau penulis kisah kehidupan para tokoh terkenal tanpa mencantumkan sang penulisnya, setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup.

Klien pertama Sam, untuk dituliskan kisahnya yakni seorang tokoh terkenal dari Jakarta bernama Don. Dalam rangkaian menuliskan kisah lelaki yang tak pernah mengungkapkan identitas maupun kehidupannya tersebut, Sam ditugaskan melacak jejak seorang Ledhek atau penari Tayub bernama Sriyati.

Petualangan Sam pun dimulai untuk mencari dan menemukan sosok Sriyati, dari ibu kota dia menyusuri sejumlah daerah yang berhubungan dengan kesenian tayub seperti Purwodadi dan tentu saja Blora.

Dalam novel setebal 252 halaman ini, Budi Sardjono yang berlatar belakang seorang jurnalis tak hanya menyajikan cerita petualangan maupun percintaan semata antar tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Namun dia menyuguhkan fakta-fakta sejarah maupun sosial politik dari kelahiran kesenian Tayub, nasib sang penarinya atau Ledhek hingga kehidupan kelam mereka akibat huru hara politik nasional pada 1965.

Jepon, sebuah kecamatan di Blora memang dikenal ledheknya, sejak dulu kala melahirkan ledhek tayub. Di mulai dari zaman Jipang Panolan saat diperintah oleh Adipati Aryo Penangsang dimana kratonnya sekarang di sekitar Cepu. Sang Adipati selalu memanggil tayub dari wilayah tersebut.

Awalnya tayub menjadi hiburan para prajurit ketika lelah di medan perang, belum ada namanya, yang penting prajurit itu menari saja, karena mereka butuh hiburan segar. Lalu mereka menayub bersama rakyat jelata, tak heran jika dulu kesannya liar, agak seronok, tak ada aturan.

Namun sejak zaman Sunan Kalijaga tayub justru digunakan untuk sarana pengumpulan massa, mereka diberi ajaran agama yang benar. Sunan lalu membuat aturan, karena itu namanya "Tayub, "ditata ben ben guyub" atau "diatur supaya rukun", tak ada lagi minuman keraas, tak ada "senggakan senggakan" yang mesum.

Di Kecamatan Jepon dulu hampir tiap malam ada pertunjukan tayub, semalam bisa dua sampai empat tempat pertunjukan. Dulu pertunjukan tayub bisa menjadi ajang pamer para pedagang kayu jati karena lewat pertunjukan itu bisa mempertemukan orang-orang sangat berkepentingan dengan hutan jati.

Oleh karena itu tidak heran jika Blora sejak dulu bukan hanya dikenal sebagai penghasil kayu jati terbaik di Pulau Jawa namun juga penah menyandang predikat sebagai Kota Ledhek di Jawa Tengah.

Usaha pencarian Sriyati yang dilakukan oleh Sam mempertemukan dirinya dengan Mbah Lurah atau Mbah Dukun, seorang yang dikenal sebagai salah satu sesepuh atau dalam kesenian Tayub yang banyak memberinya pengetahuan dan pengalaman tentang kesenian rakyat tersebut.

Tarian Tayub yang dipenuhi dengan musik serta lagu riang gembira dan gerakan-gerakan yang membuat penontonnya terhibur ternyata tidak berbanding lurus dengan nasib maupun jalan hidup yang dilalui para penarinya maupun anggota grup kesenian tersebut.

Inilah yang terjadi kemudian setelah peristiwa Gerakan Tigapuluh September (G30S) pada tahun 1965 yang membalikkan tatanan berbangsa dan bernegara di Indonesia, ternyata berdampak pada nasib para Ledhek penari tayub yang kebanyakan wanita.

Dari Mbah Lurah inilah Sam juga memperoleh petunjuk keberadaan Sriyati yang kemudian mengharuskannya melanjutkan perjalanan ke Blora sehingga dapat bertemu dengan seorang bekas Ledhek atau penari tayub bernama Ratmini.

Melalui sosok perempuan berusia lanjut itulah pengarang novel ini membeberkan nasib tragis para penari tayub terutama setelah pemberontakan yang gagal dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965.

Sekitar tahun 1970an banyak Ledhek yang ditahan di penjara Ambarawa. Bukan hanya dari Blora tapi juga dari Purwodadi, Rembang, Jepara, Yogya, Solo, Magelang dan kota lain. Penjara Ambarawa memang khusus untuk tahanan wanita, ada yang jadi ledhek atau penari rakyat.

Tak hanya di Penjara Ambarawa, nasib lebih tragis dialami para penari tayub yang ditanah di Plantungan, kamp tahanan wanita, yang salah satu tahanan di situ adalah Sriyati dan Ratmini.

Mereka dianggap jadi bagian dari pemberontakan politik yang gagal lalu semua harus ditumpas habis. Para tahanan wanita tinggal di barak-barak yang pernah dihuni para penderita kusta.

Sejak 1970 komplek isolasi penderita kusta itu diubah menjdi penjara wanita. sekitar 500 wanita harus hidup dalam penderitaan, intimidasi, siksaan, tuduhan tanpa pengadilan terisolasi dari masyarakat sekitar. Ada yang dulunya dokter, perawat, guru, mahasiswa, bakul, pemain kethoprak, penari ledhek, dan lain-lain.

Setelah huru-hara besar itu tidak ada yang berani menanggap tayub, juga tak ada yang berani melanjutkan pekerjaannya sebagai ledhek. Dunia tayub mati, para pengrawit dan ledheknya bubar, sebagian dipenjara, sebagaian hanya disuruh apel seminggu tiga kali.

Membaca "Ledhek Dari Blora" ini mau tak mau mengingatkan pada novel trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas Jawa Tengah. Novel yang diterbitkan pada era 1980an itu juga mengangkat kesenian dan penari tayub, dengan latar belakang perisitiwa 1965.

Jika Budi Sardjono mengangkat kesenian tayub dari wilayah Jateng bagian timur yakni Blora sedangkan Ahmad Tohari dari kawasan Jateng bagian barat yakni Banyumas yang terkenal dengan sebutan ronggeng untuk penarinya, melalui sosok Srintil.

Budi Sardjono penulis kelahiran Yogya pada 1953 melalui novelnya Sang Nyai pernah memperoleh penghargaan Sastra 2012 dari Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia pernah menjabat Wakil Pemimpin Umum Majalah Kebudayaan BASIS (1986-1996), serta redaktur sejumlah majalah hingga saat ini.

Kedua novel yang ditelorkan dua penulis yang berbeda itu sepertinya hendak menunjukkan zaman yang berubah cepat dan tidak bisa diduga ini akan menelan tradisi dan budaya masyarakat, temasuk seni tayub. Lagi pula di zaman sekarang menjadi ledhek atau ronggeng bukan jaminan hidupnya bisa sejahtera. Belum tentu setiap hari ada yang menanggap. Tidak mudah seorang ledhek zaman sekarang populer lalu panen duit. Saweran yang mereka diterima pun tidak untuk diri sendiri namun harus dibagi dengan para pengrawit atau penabuh gamelan.

Namun beruntung masih ada perempuan-perempuan yang lahir di zaman modern yang masih mau masuk ke masa silam dan membawanya ke masa kini, sehingga masih mau menghidupkan kesenian Tayub. Memang tidak mudah, karenanya butuh keberanian dan kemauan menghadapi tantangan zaman.

Baca juga: Kajian Seni Tayub di Tuban
Baca juga: Iqbaal Ramadhan jadi Minke di film "Bumi Manusia"
Baca juga: Resensi - Novel "Chemistry" menghidupkan kembali sastra pedesaan
Baca juga: Sapardi Djoko Damono terbitkan novel ketiga trilogi "Hujan Bulan Juni"


 

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar