BMKG: beberapa daerah di sumbar berpotensi karhutla

BMKG: beberapa daerah di sumbar berpotensi karhutla

ilustrasi (ANTARA /Nova Wahyudi)

Payakumbuh (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Minangkabau (BMKG) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat memperkirakan beberapa daerah di provinsi itu berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan karena cuaca yang cukup terik.

"Satu minggu ke depan, potensi karhutla cukup mudah terjadi, seperti di Kabupaten Pasaman dan Pesisir Selatan," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau Yudha Nugraha dihubungi dari Payakumbuh, Rabu.

Berdasarkan data pengamatan dari satelit modis pada Selasa (17/7) terpantau lima titik api di wilayah Pasaman dekat dengan Riau, serta satu di Pesisir Selatan dengan tingkat kepercayaan cukup tinggi.

Potensi kebakaran hutan, lanjutnya, disebabkan oleh kondisi cuaca masih didominasi kering hingga satu minggu ke depan.

Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena bisa mengakibatkan kobaran api yang meluas sehingga sulit dikendalikan.

"Kemudian juga jangan sembarangan membuang puntung rokok di lahan yang kering," kata dia.

Ia menyebutkan secara umum suhu udara di Sumbar 19 hingga 31 derajat Celsius, kelembaban udara 65 sampai 98 persen, dan arah angin dari barat ke timur laut dengan kecepatan 15 kilometer per jam.

Sebelumnya Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengingatkan masyarakat khususnya pemilik ladang atau kebun untuk tidak membuka lahan dengan cara membakarnya.

"Risiko kebakaran hutan dan lahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman," ujarnya.

Selain melakukan sosialisasi kepada warga, Pemprov Sumbar juga meminta masing-masing bupati dan wali kota untuk memastikan mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan bisa diminimalisasi.

Pemprov sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah terkait dengan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. (KR-SHL).

Baca juga: BMKG: 29 titik panas menyebar di Riau

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar