counter

Peneliti: perkuat partisipasi masyarakat lestarikan terumbu karang Kepulauan Seribu

Peneliti: perkuat partisipasi masyarakat lestarikan terumbu karang Kepulauan Seribu

Ilustrasi: Keindahan terumbu karang (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Jakarta (ANTARA News) - Peneliti Pusat Kajian Sumber Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Beginer Subhan menuturkan perlu adanya peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan dan pelestarian terumbu karang di Kepulauan Seribu.

"Di Kepulauan Seribu, saya lihat engagement (keterlibatan) dengan masyarakatnya perlu diperkuat lagi, terkait dengan daerah restorasi terumbu karangnya itu," kata Beginer yang juga dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, Jakarta, Sabtu.

Beginer yang mengajar mata kuliah Biologi Laut dan Selam Ilmiah (Scientific Diving) di IPB mengatakan daerah yang terumbu karangnya telah direstorasi harus tetap dijaga sehingga ekosistem itu tetap hidup dengan lestari secara berkelanjutan.

Dia meneliti sejumlah pulau di Kepulauan Seribu antara lain Pulau Tidung, Pulau Harapan, Pulau Panggang dan Pulau Bira.

"Saya sudah meneliti beberapa daerah restorasi, kuncinya di masyarakatnya. Pemerintah sudah memberikan bantuan, masyarakat tinggal bagaimana selanjutnya menjaga dan mengelola terumbu karang ini," tuturnya.

Beginer mengatakan tingkat kerusakan kondisi ekosistem terumbu karang tergolong sedang di beberapa pulau yang diamati di Kepulauan Seribu, seperti Pulau Harapan dan Pulau Pari.

Untuk itu, rehabilitasi yang selama ini dilakukan berbagai pihak termasuk pemerintah di wilayah itu harus terus dilakukan sehingga terumbu karang dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Adapun sejumlah ancaman terhadap perkembangan terumbu karang dan padang lamun di Kepulauan Seribu antara lain kegiatan wisata, tumpahan minyak, tambatan kapal, sampah, limbah, penambangan pasir dan juga tidak dipungkiri di beberapa lokasi ancaman terbesar adalah reklamasi, bukan oleh perusahaan besar, tetapi malah dilakukan oleh masyarakat sendiri.

Dia menuturkan pencemaran terhadap ekosistem pesisir dan laut di mana terumbu karang dan padang lamun hidup juga banyak bersumber dari aktivitas manusia atau antropogenik. Dia memberikan contoh, dalam 10 tahun terakhir, penggunaan potas, racun dan pemboman ikan paling banyak menyebabkan kerusakan terumbu karang di Kepulauan Seribu yang mana sampai saat ini bekas kerusakan masih bisa ditemui.

Selain itu, masih ada masyarakat menambang karang untuk membuat pondasi rumah.

Untuk itu, masyarakat harus didorong lebih peduli lingkungan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan restorasi terumbu karang.

Dia juga mengapresiasi pemerintah daerah yang telah banyak bertindak untuk rehabilitasi terumbu karang seperti transplantasi karang.

"Sepengetahuan saya, daerah yang paling banyak menggelontorkan dana untuk rehabilitasi itu adalah Kepulauan Seribu baik oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu maupun pemerintah DKI Jakarta," ujarnya.

Baca juga: Sindiran Menteri Susi bagi penyelam yang rusak terumbu karang
Baca juga: Susi tegaskan komitmen Indonesia kelola terumbu karang





 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar