Calon jamaah haji mengamuk bisa karena dehidrasi

Calon jamaah haji mengamuk bisa karena dehidrasi

Jamaah calon haji asal Kabupaten Batang antre memasuki pesawat di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (18/7/2018). Menurut data Kementerian Agama, kuota haji Indonesia mengalami peningkatan dari 211 ribu pada 2017 menjadi 221 ribu jamaah di tahun 2018. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Mekkah (ANTARA News) - Direktur Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah Muhammad Yanuar mengatakan calon jamaah haji yang mengamuk tidak selalu karena gangguan jiwa akan tetapi bisa karena kekurangan cairan akibat kurang minum.

"Ini ciri khas orang yang mengalami dehidrasi. Seolah-olah mengalami gangguan jiwa, padahal karena kekurangan minum," kata Yanuar kepada tim Media Center Haji di Mekkah, Sabtu.

Dia mengatakan di pekan ini terjadi kasus CJH mengamuk dan awalnya diduga mengalami gangguan jiwa sehingga ditangani tim psikiatri KKHI Madinah. Awalnya Tim Gerak Cepat menemukan jamaah sedang mengamuk di jalan.

Kemudian tim TGC membawa ke KKHI. Setelah diinfus dan diberi obat, diketahui jamaah tersebut mengalami dehidrasi.

Guna menghindari terjadi hal serupa, Yanuar mengajak CJH saat berada di Arab Saudi untuk terus menjaga kebugaran dengan banyak mengonsumsi air minum.

"Orang Indonesia biasanya takut banyak minum karena takut buang air kecil. Padahal misalnya di Masjid Nabawi banyak toilet dan jarak ke ke hotel pun dekat. Kecuali kita punya penyakit tertentu yang tidak boleh banyak minum," kata dia.

Air minum sendiri menjadi kebutuhan pokok jamaah karena dengan mengonsumsinya di daerah berhawa panas seperti di Arab Saudi dapat menghindarkan diri dari berbagai gangguan kesehatan.

Beberapa gangguan kesehatan dapat terhindar dari jamaah dengan mengonsumsi air yang cukup. Di antara gangguan kesehatan akibat dehidrasi seperti kejang panas (heatstroke), kondisi emosi labil, lemas, hilang kesadaran dan gangguan kesehatan lainnya.

Baca juga: Hindari dehidrasi, calon jamaah haji disarankan perbanyak minum

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar