Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji meningkatkan alokasi dana untuk pengembangan riset ilmu pegetahuan dan teknologi (iptek) sebagai satu upaya mendorong pembangunan bangsa yang memiliki daya saing tinggi. "Anggaran riset bidang iptek merupakan suatu hal yang mutlak, karena merupakan sarana mempertahankan keberlanjutan suatu negara," kata Presiden Yudhoyono, dalam pidatonya pada Gelar Ilmu dan Innovasi 2007, yang ditandai peresmian pembangunan "Science Park" di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jabar, Senin. Hadir dalam acara itu Mendiknas Bambang Sudibyo, Menristek Kusmayadi Kadiman, Mensesneg Hatta Rajasa, Rektor UI Prof Usman Chatib Warsa, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, Wakil Gubernur DKI Jakarta nonaktif Fauzi Bowo. Menurut Presiden, sesungguhnya riset harus dibiayai dengan dana yang lebih besar, namun melihat kondisi anggaran Indonesia dana riset belum bisa maksimal. "Anggaran riset kita masih kurang dari satu persen dari PDB, padahal di sejumlah negara alokasi dana riset sudah jauh mencukupi," ujar Presiden. Masih relatif kecilnya anggaran karena Indonesia masih baru saja lepas dari krisis ekonomi yang luar biasa. Namun kata Presiden, pemerintah terus berupaya meningkatkan anggaran dengan cara mengurangi atau melakukan efisiensi pada belanja-belanja yang tidak perlu di departemen dan lembaga pemerintah. "Pencegahan korupsi, pengurangan biaya perjalanan dan efisiensi lainnya saya rasa anggaran negara bisa dihemat sekitar Rp11 triliun. Dana itu bisa dialihkan untuk memperbesar porsi anggaran riset di tanah air," ujar Presiden. Dengan berkembangnya riset iptek, diharapkan ada solusi bagi Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah di tanah air. "No future without technology. Iptek adalah solusi menyelamatkan suatu negara, termasuk bisa menyelamatkan sekitar 6,3 miliar penduduk dunia dari ancaman kerusakan lingkungan hidup," ujar Presiden. Terkait pembangunan "Science Park", Presiden Yudhoyono menghimbau agar menjadi model bagi bagi perguruan tinggi di Indonesia, dengan mengacu standar ke negara lain yang telah lebih dulu memilikinya. Dengan dana yang terbatas, Presiden mengimbau agar universitas yang mengembangkan Science Park dapat bekerja sama dengan swasta seperti perusahaan-perusahaan, termasuk dengan lembaga internasional. Pada kesempatan itu, Presiden juga mengimbau para peneliti Indonesia dalam melakukan riset terus mengembangkan karakter dan kekuatan sendiri, sehingga memiliki nilai riset yang tinggi. "Saya berpesan kepada segenap civitas akademika UI agar jangan tanggung-tanggung dalam mengembangkan sesuatu penelitian. Sekali melangkah capailah sesuatu yang besar, lakukan penelitian dan inovasi untuk menjawab serta mencegah krisis masa depan," tegas Presiden. Himpun SDM Sementara itu, Rektor UI Prof Usman Chatib Warsa menjelaskan "Science Park" menjadi langkah awal UI menjadi universitas riset melalui aktivitas penghimpunan sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana. "Melalui Science Park, UI bertekad dapat menggalang kemitraan antara akademisi, pemerintah dan kalangan dunia usaha. Konsep ini nantinya menciptakan peluang dalam penerapan temuan-temuan ilmiah dalam dunia industri dan bisnis," kata Usman, yang masa kepemimpinannya akan berakhir pada pertengan Agustus 2007. Ia juga menuturkan "Science Park" UI sebagai inkubator ilmu dan bisnis sejalan dengan upaya menumbuhkembangkan ilmu untuk kesejahteraan, sinkronisasi dan harmonisasi ilmu yang ada, sehingga meningkatkan kualitas hasil riset. (*)

Copyright © ANTARA 2007