counter

Ekspedisi Palu-Koro untuk tingkatkan kesadaran masyarakat

Ekspedisi Palu-Koro untuk tingkatkan kesadaran masyarakat

Sejumlah warga menyaksikan asap disertai abu vulkanis keluar dari kawah Gunung Agung yang masih berstatus awas, di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali. (ANTARA /Nyoman Budhiana)

Dampak dari pergerakan lempeng tektonik dan sesar itu, salah satunya adalah gempa bumi
Jakarta  (ANTARA News) - Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru Prihatmoko mengatakan penyelenggaraan Ekspedisi Palu-Koro bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi kebencanaan, terutama gempa bumi di wilayah tersebut.

"Di wilayah tersebut kerap terjadi gempa. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran sehingga mampu memitigasi," kata Sukmandaru dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Selain membangun kesadaran masyarakat akan potensi gempa, Ekspedisi Palu-Koro juga bertujuan menggali potensi sumber daya alam, terutama mineral dan gas, dan potensi geowisata.

Sukmandaru mengatakan Indonesia memiliki tiga patahan tektonik atau sesar besar, yaitu Sumatera, Palu-Koro dan Sorong yang memiliki sifat bergerak bergesekan.

Bagaimana sesar terbentuk? Sukmandaru mengatakan kerak bumi tempat tinggal manusia merupakan lempengan-lempengan tektonik yang terus bergerak sehingga kulit luarnya ikut terpengaruh.

"Karena pergerakan itu, kulit kerak menjadi pecah-pecah yang menyebabkan terbentuk sesar. Pergerakan itu menyebabkan lempeng tektonik dan sesar bertabrakan, bergesekan atau saling menjauh," tuturnya.

Baca juga: Saban tahun ada gempa Bumi besar di Indonesia
Baca juga: 157 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan gempa


Dampak dari pergerakan lempeng tektonik dan sesar itu, salah satunya adalah gempa bumi. Pergerakan tersebut juga dapat memicu timbul gunung api di perbatasan antarlempeng.

Khusus untuk Sesar Palu-Koro, Sukmandaru mengatakan terdapat catatan peristiwa gempa besar pada 1907 dan 1909. Namun, penelitian palaeoseismologi menunjukkan wilayah tersebut memang kerap terjadi gempa, tidak hanya dua kali yang tercatat itu. "Karena itu perlu diwaspadai karena bisa saja kejadian gempa bumi berulang," ujarnya.

Ekspedisi Palu-Koro merupakan kerja sama antara Perkumpulan Skala, IAGI, Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Platform Nasional Untuk Pengurangan Risiko Bencana yang akan menyusuri Sesar Palu-Koro yang memanjang dari Kota Palu hingga Teluk Bone.

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar