... itu adalah kaum nasionalis, santri, dan milter...
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat agama Islam dan budaya dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai Indonesia akan menjadi kuat dan stabil jika tiga pilar kekuatan sosial politik di Indonesia daat bergabung dan solid.  

"Ketiga kekuatan itu adalah kaum nasionalis, santri, dan milter. Jika ketiga kekuatan tersebut bergabung menjadi satu, maka Indonesia akan stabil," kata dia, melalui pernyataan tertulisnya yang diterima, di Jakarta, Rabu.

Menurut Machmudi, merapatnya Partai Demokrat ke Partai Gerindra dipastikan dapat memperkuat kekuatan oposisi yang telah dibangun Partai Gerindra dan PKS. "Apalagi, jika ditambah Partai Amanat Nasional (PAN), pasti akan semakin kokoh," katanya.

Dalam pandangan dia, Partai Gerindra dan Partai Demokrat mewakili kekuatan nasionalis, sedangkan kelompok agamis diwakili PKS dan PAN, serta figur militer ada pada ketua umum Partai Demokrat dan Partai Gerindra. "Bersinerginya PAN dan PKS, akan menarik konstituen muslim perkotaan," katanya. 

Terkait usulan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) dari koalisi empat partai politik tersebut, menurut Machmudi, Partai Gerindra sebagai pemimpin koalisi dapat dipastikan mengusung Probowo menjadi capres.  
 
Ketua Umum Demokrat, Susilo Yudhoyono, saat menyambut Ketua Umum DPP Gerindra, Prabowo Subianto, di rumahnya, di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa malam. SBY dan Prabowo akan membahas peluang koalisi antara Demokrat dan Gerindra. (ANTARA News/Rangga Jingga)


Siapa calon wakil presidennya?
"Ini yang mungkin membuat Prabowo galau. Padahal pasangan nasiobalis-agamis sampai saat ini masih relevan dalam budaya politik Indonesia," katanya.

Doktor alumnus The Australian National University ini menambahkan, dalam hitung-hitungan siapa pasangan Prabowo, jika dipasangkan dengan kader dari ketiga partai politik mitra koalisi, maka akan ada plus-minusnya.

Jika Prabowo berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) cukup menarik tapi diprediksi tidak mampu mengangkat elektabilitas Prabowo aecara signifikan sehingga berporensi gembos. Jika Prabowo berpasangan dengan Zulkifli Hasan kemungkinan akan mengulang Pemilu 2014 lalu.

Pilihan lain, kata dia, adalah Prabowo berpasangan dengan Salim Segaf Al Jufri seperti yang diusulkan Ijtima' Ulama.  "Pasangan Probowo-Salim walaupun saat ini elektabilitasnya masih biasa-biasa saja tetapi berpotensi untuk naik cepat dan mengancam posisi Jokowi di Pemilu 2019," katanya.

Menurut Machmudi, figur Salim ini agak unik, karena tidak hanya mewakili PKS tapi juga merupakan sosok yang lahir dari tradisi Al Khairat yang punya jaringan luas di Indonesia Timur. "Hadirnya Salim akan melengkapi kekurangan Prabowo," kata Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia ini.
 
Pasangan Prabowo-Salim, kata dia, menjadi lebih efektif jika koalisi menempatkan AHY sebagai juru bicara atau ketua tim pemenangan capres-calon wakil presiden, sehingga menjadi panggung besar bagi AHY dalam memperkuat citranya ke depan.  "Pemenangan Pemilu akan semakin kuat jika didukung PAN yang memiliki pemilih rasional," katanya.

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2018