Warga Pesisir Pantura Indramayu Panik Saat Gempa

Warga Pesisir Pantura Indramayu Panik Saat Gempa

Cirebon (ANTARA News) - Ribuan warga pesisir Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, sempat panik, saat terjadi gempa, Kamis pukul 00.05 WIB, namun tidak dilaporkan adanya kerusakan akibat guncangan gempa tersebut. Sejumlah warga pesisir melaporkan, guncangan berlangsung antara satu sampai satu setengah menit, sehingga ratusan orang sempat panik keluar rumah seperti yang terjadi di Perkampungan Nelayan di Limbangan, Juntinyuat, Indramayu. "Semua merasakan gempa, dan karena takut ada tsunami beberapa orang melihat ke laut air, tetapi air tidak surut dan tampak tenang," kata Castadi, nelayan limbangan yang tengah ronda kampung. Kepanikan juga terjadi di perkampungan nelayan di Desa Parean, Kandanghaur, Indramayu, yang sebagian kecil sempat keluar rumah untuk berjaga-jaga jika ada gelombang besar. "Kami tetap berjaga-jaga, walaupun goyangan gempa tidak begitu besar, sebab bisa jadi yang di tengah laut gelombang lebih tinggi dan tengah meluncur ke sini," Kastubi, nelayan asal Parean. Sementara Dan Sional Cirebon Letkol Laut (P) Denih Hendrata kepada ANTARA mengatakan, berdasarkan laporan dari pos angkatan laut di pesisir Indramayu dan Cirebon, getaran gempa tidak begitu keras sehingga tidak menimbulkan kepanikan yang berarti. Ia mengungkapkan, guncangan gempa lebih keras justru dilaporkan di Pangandaran Utara dengan durasi sekitar dua menit, namun tidak ada tanda-tanda gelombang pasang. "Dari laporan petugas di lapangan, air laut di Pulau Jawa masih tenang, demikian juga di Pangandaran," katanya. Kapolwil Cirebon Kombes Pol Bambang S yang dihubungi melalui ponsel juga mengatakan, belum ada laporan kerusakan rumah atau korban akibat gempa tersebut. "Saya belum dapat laporan adanya kerusakan rumah atau korban yang luka-luka, kelihatannya guncangan di wilayah Cirebon tidak begitu keras," katanya. Sejumlah Polsek di Indramayu yang berada di pesisir juga melaporkan kondisi warga tidak begitu panik karena sebagian besar sedang tertidur lelap. "Kami tidak begitu merasakan gempa, tetapi warga di Parean justru lebih merasakan gempa," kata Bripda Agus yang bertugas piket malam. Demikian juga dilaporkan petugas piket Polsek Karangampel yang mengaku tidak begitu merasakan gempa. Sementara itu, di Kota Cirebon dan sekitarnya, sejumlah warga memperbincangkan gempa yang baru saja terjadi, bahkan umumnya warga Cirebon justru menerima telepon dari saudara mereka di Bandung dan Jakarta karena gempa di sana lebih terasa. "Saya justru dapat telepon dari Bandung, katanya di Cirebon ada gempa, tetapi di sini goyanganya kecil sekali," kata Ny Wati, di Jalan Kusnan, Cirebon. Sementara di ruang sebelas RSUD Gunung Jati Cirebon yang berada di lantai dua, sebagian pasein dan suster jaga merasakan goncangan gempa yang lebih kuat sehingga sempat berlari ke luar ruangan. "Benar, kamar pasien yang ada di lantai dua merasakan gempa lebih kuat, dan sebagian penjaga pasien sempat keluar ruangan," kata Soleh, yang biasa bertugas di UGD RSUD Gunung Jati Cirebon. Pusat Penelitian Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat bahwa gempa berkekuatan 7,5 pada Skala Richter (SR) terjadi di sejumlah wilayah Jawa, yang berpusat di 5,924 Lintang Selatan (LS) dan 107,741 Bujur Timur (BT) pada pukul 00:04:57 WIB. Gempa tersebut berpusat di kedalaman 282,1 kilometer di Pulau Jawa, sekira 112 kilometer dari Jakarta, 116 kilometer dari Bandung dan 130 kilometer dari Cirebon (Jawa Barat). (*)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar