Basarnas: NTB idealnya miliki 200 personel SAR

Basarnas: NTB idealnya miliki 200 personel SAR

Ilustrasi. Pendaki Gunung Rinjani yang sempat terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti (kedua kanan), dibantu adiknya setelah berhasil dievakuasi dan tiba di Lapangan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Selasa (31/7/2018). Tiga orang pendaki yang terjebak akibat gempa berhasil dievakuasi menggunakan helikopter. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Mataram (ANTARA News) - Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi menyatakan Kantor SAR Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), idealnya memiliki 200 personel karena wilayah tugasnya mencakup Pulau Lombok dan Sumbawa.

“Yang ada saat ini hanya 102 orang dengan tiga pos SAR, yakni di Kayangan, Kabupaten Lombok Timur, Sumbawa dan Bima, di samping kantor induk di Kota Mataram," kata Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi di Mataram, Rabu.

Kedatangan orang nomor satu di lingkup Basarnas tersebut untuk memberi pengarahan sekaligus mengevaluasi pelaksanaan penanganan korban bencana gempa bumi di Lombok yang dilakukan oleh anggota Kantor SAR Mataram.

Salah satu yang menjadi bahan evaluasi adalah jumlah personel yang harus diperbanyak karena medan kerja yang relatif luas.

Selain itu, kata Syaugi, NTB juga termasuk daerah rawan bencana, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor dan gunung meletus. Belum lagi bencana orang tenggelam akibat kecelakaan pelayaran di perairan laut.

"Intinya dengan melihat medan yang cukup luas di NTB, memerlukan pos tambahan dan jumlah personel. Itu tergantung pemerintah daerah juga, apabila memberikan lahan untuk menempatkan peralatan dan personel," ujarnya.

Terkait dengan penanganan korban gempa bumi, Syaugi menilai anggota Kantor SAR Mataram sudah merespon kejadian dengan bergerak cepat, yakni dalam waktu 30 menit setelah gempa bumi terjadi.

Sebanyak tiga tim menyebar ke tiga lokasi yang dilaporkan terdampak parah, yakni Kecamatan Sembalun dan Sambelia di Kabupaten Lombok Timur, serta Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara.

"Yang utama adalah proses evakuasi dari atas Gunung Rinjani. Di sana ada 171 wisatawan asing dari total 549 orang pendaki yang berada di atas gunung ketika gempa bumi terjadi," ujar Syaugi.

Ia mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan Tim SAR gabungan melaksanakan upaya pencarian dan pertolongan.

Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, NTB, Minggu (29/7), pukul 06.47 WITA.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB menerima laporan sementara sebanyak 17 orang meninggal dunia, termasuk di antaranya satu warga negara Malaysia dan satu warga Makassar, Sulawesi Selatan. 

Baca juga: Kak Seto hibur anak-anak korban gempa Lombok

Baca juga: Mensos: bantuan korban gempa NTB sudah disalurkan

 

Pewarta: Awaludin
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pemerintah perpanjang masa transisi darurat pascagempa NTB

Komentar