counter

Tradisi Malamang bentuk kekompakan warga Dayak Deah

Tradisi Malamang bentuk kekompakan  warga Dayak Deah

Pembuatan Lemang Dua pekerja menyelesaikan proses pembakaran lemang bambu (penganan berbahan dasar beras ketan) di Kawasan Pasar Senen Jakarta, Jumat (26/6). Pelaku usaha lemang meningkatkan produksi hingga 500 buah per hari pada bulan puasa atau meningat lebih dari 300 persen dibanding hari biasa guna memenuhi permintaan sebagai menu alternatif buka puasa. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/Rei/kye/15).

 Tanjung (ANTARA News) - Tradisi malamang atau membuat lamang, suatu jenis masakan khas Suku Dayak   di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan yang dilaksanakan setiap menyambut perayaan atau acara tertentu dinilai memperkuat kekompakan warga Dayak Deah.

Ketua Adat Dayak Deah Ruslan di Tanjung, Kamis, mengatakan tradisi malamang, membuat masakan dari beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda menjadi salah satu budaya turun temurun yang dilaksanakan secara berkelompok.

"Melalui tradisi kuliner ini warga Dayak Deah yang tinggal di sekitar obyek wisata Goa Sialing bisa menjalin kerjasama dan kekompakan," ujarnya.

 Secara bergotong-royong warga terlibat dalam penyiapan bahan lemang seperti mengumpulkan batang bambu, daun pisang hingga kayu bakar.

  Selain itu, ujarnya, baik para pria maupun wanita biasanya turut hadir setiap tradisi malamang yang dilaksanakan warga Dayak Deah.

Baca juga: Tradisi Laluhan Dayak Ngaju Masih Lestari

  Di Dusun Sialing yang menjadi lokasi Komunitas Adat Terpencil itu tradisi malamang ala warga Dayak Deah jadi daya tarik tersendiri bagi pendatang atau pengunjung Wisata Goa Sialing.

 Terbukti pada Tabalong Etnik Festival tradisi melamang di Dusun Sialing dibanjiri para pengunjung dan fotografer dari luar Kabupaten Tabalong, urainya.

  Kesibukan puluhan warga secara bergotong-royong menyiapkan bahan dan peralatan pembuatan lamang hingga proses pembakaran cukup menarik untuk didokumentasikan, tambahnya.

  Tradisi malamang di Dusun Sialing yang mayoritas warganya dari suku Dayak Deah membuat masakan tersebut dengan menggunakan adonan beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu yang telah dialasi daun pisang.

Setelah itu lamang pun dipanggang di atas bara api di mana bambu yang berisi adonan beras ketan dan santan disusun berdiri mengelilingi bara api agar masaknya merata.

 Setelah masak, lamang yang sudah dingin, ujar Ruslan, dipotong kecil-kecil sebelum disajikan kepada para tamu.  

Baca juga: Lemang dan rendang menu berbuka favorit Fedi Nuril

Pewarta: Herlina Lasmianti
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Bali Interfood 2019 majukan pariwisata dengan kreasi kuliner tradisional

Komentar