Kemenkop dorong koperasi jadi pengelola desa wisata

Kemenkop dorong koperasi jadi pengelola desa wisata

Wisatawan menyaksikan pemandangan matahari terbit di bukit Sikunir, kawasan dataran tinggi Dieng Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Minggu (22/7/2018). Bukit Sikunir merupakan salah satu tujuan wisata utama di Dieng yang selalu dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai kota setiap hari libur. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

Jakarta, (ANTARA News) - Kementerian Koperasi dan UKM mendorong badan usaha koperasi bisa masuk mengelola dan mengembangkan destinasi pariwisata termasuk desa wisata.

Asisten Deputi Industri dan Jasa Kementerian Koperasi dan UKM Ari Anindya Hartika di Jakarta, Jumat, mengatakan pengelolaan bisnis wisata yang didominasi swasta dinilai belum maksimal dalam mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.

"Kita ingin sebuah destinasi khususnya desa wisata dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat," katanya.

Untuk kepentingan itu, Kemenkop dan UKM sedang mengembangkan model desa wisata yang dikelola oleh koperasi.

Desa wisata yang dibina meliputi desa wisata di Kabupaten Samosir di Sumut, Desa Sesaot dan Desa Banyumulek di NTB, Taman Laut 17 Pulau Kabupaten Ngada, dan Pulau Komodo Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Kampung Mempura di Riau, Danau Lut Tawar di Aceh Tengah, serta Candi Borobudur, Magelang.

"Koperasi sebagai pengelola desa wisata ada yang cukup bagus. Kita arahkan mereka membentuk koperasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi mereka itu yang kita inginkan," katanya.

Sementara itu Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan ada dua jenis kelembagaan yang paling memungkinkan untuk pengembangan desa wisata.

Selain koperasi, ada pula Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), sebuah lembaga usaha desa yang dikelola oleh pemerintah desa juga masyarakatnya.

"Potensi koperasi mengembangkan destinasi wisata sangat besar, karena dia tidak saja menciptakan nilai tambah tapi juga fokusnya untuk kesejahteraan. Kaki koperasi itu ada dua, segi ekonomi dan sosial," kata Teguh.

Meski begitu, koperasi dituntut berinovasi di dalam menjalankan kegiatan usahanya baik dari segi kelembagaan, maupun organisasi, serta harus mampu melihat peluang pasar agar tetap berkelanjutan.

"Diharapkan ada sinergi Kemenkop dan UKM sehingga koperasi bisa sampai membangun kerja sama dengan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Nah pola ini juga menjadi peluang bagi Kemenkop dan UKM untuk menyusun program koperasi menjadi lebih bervariasi,"  ujar Teguh.

Sedangkan dalam percepatan pembangunan dan pengelolaan pariwisata Asdep Perniagaan, Kewirausahaan, dan Ketenagakerjaan Setkab Roby Arya Brata menginginkan agar seluruh kegiatan yang mendukung pemberdayaan UMKM sektor pariwisata pada tahun depan difokuskan di 10 destinasi wisata unggulan.
Baca juga: Kemenkop Rintis Empat Desa Wisata Berbasis Koperasi
Baca juga: Mendes terkesan dengan geliat desa wisata di Banyuwangi
Baca juga: BBTF kenalkan sembilan desa wisata Bali

 

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar