Australia menentang perombakan piala davis

Australia menentang perombakan piala davis

Ganda putra Indonesia David Agung Susanto (kiri) dan Justin Barki (kanan) mencoba mengembalikan bola kearah pasangan Filipina Francis Casey Alcantara dan Jurence Zosimo Mendoza dalam partai ketiga Piala Davis Grup II Zona Asia/Oseania di Stadion Tenis Senayan, Jakarta, Minggu (4/2/2018). Pasangan Indonesia harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 6-7 (5) dan 3-6. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

London (ANTARA News) - Rencana Federasi Tenis Internasional (ITF) untuk mengubah format kejuaraan tenis beregu putra Piala Davis makin mendapat penentangan setelah Australia mengatakan bahwa pihaknya tidak setuju dengan perubahan tersebut karena prosesnya "jauh dari transparan".

ITF sempat berharap proposalnya untuk mengubah turnamen yang berusia 118 tahun itu menjadi sebuah kejuaraan dengan putaran final berisi 18 tim mendapat lampu hijau pada pertemuan di Orlando, AS, 13-16 Agustus.

Namun Federasi Tenis Australia dalam suratnya kepada "Presiden, Dewan dan CEO peserta Piala Davis menyebutkan bahwa pihaknya tidak mendukung diadakanya Putaran Final Piala Dunia ITF yang bakal menggantikan Piala Davis dan berlangsung di satu lokasi selama tujuh hari.

Turnamen baru tersebut direncanakan mulai bergulir pada November 2019.

Australia mengatakan bahwa tidak ada kejelasan soal kontrak kerja sama 25 tahun senilai tiga miliar dolar AS selama 25 tahun untuk menggelar kejuaraan itu dengan kelompok investor Kosmos, yang didirikan pemain sepak bola Spanyol dan Barcelona Gerard Pique, yang disebut ITF sebagai suatu `perubah permainan".

Surat protes ditandatangani ketua tenis Australia Craig Tiley serta beberapa mantan kapten tim Piala Davis Australia, serta yang saat ini Lleyton Hewitt.

"Kami sudah beberapa bulan menyampaikan kepada ITF untuk meminta klarifikasi atas proposal dari Kosmos, namun belum ada kemajuan. Ada sejumlah besar angka, namun tidak ada penjelasan rinci yang membuat kami percaya bahwa rencana perubahan itu benar-benar bernilai bagi pemain dan negara-negara peserta setelah dihilangkannya pertandingan kandang-tandang serta manfaat bagi pasar lokal."

"Dengan tidak adanya informasi penting itu, maka kami tidak punya pilihan lain kecuali menentang proposal perubahan itu," kata federasi tenis Australia, seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya Tenis Eropa, yang miliki 50 negara anggota, juga menentang rencana perubahan Piala Davis itu.

"Saya terutama prihatin bahwa tidak informasi yang jelas dari ITF terkait bank garansi untuk proposal senilai 120 juta dolar AS per tahun itu, atau 3 miliar dolar untuk 25 tahun," kata ketua Tenis Eropa Vladimir Dmitriev.

Turnamen Piala Davis yang selama ini diselenggarakan ITF terguncang setelah asosiasi tenis putra, ATP, mengumumkan rencana menggelar turnamen saingan, yakni World Team Cup, suatu kejuaraan beregu putra dengan hadiah 15 juta dolar dalam bentuk uang serta tambahan poin peringkat.

Rencananya turnamen milik ATP itu akan masuk dalam kalender 2020, di Australia.

Baca juga: Australia kembali ke grup dunia Piala Davis
 

Pewarta:
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar