Oknum mengaku dari KPK memeras anggota DPRD

Oknum mengaku dari KPK memeras anggota DPRD

Polisi memperlihatkan barang bukti pemerasan yang dilakukan oknum yang mengaku intelijen LSM Koordinasi Pemberantasan Korupsi (KPK) Suparno (ketiga kiri) di Mapolres Magetan, Jawa Timur, Selasa (18/7/2017). Polisi menangkap tersangka warga Kediri Jawa Timur tersebut setelah mendapatkan laporan dari seorang kepala desa yang diancam akan dibongkar berbagai masalah di desa bila tidak membayar sejumlah uang. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Tersangka diduga melakukan aksi penipuan terhadap Endang Winaryanti, seorang anggota DPRD Kota Madiun
Madiun (ANTARA News) - Petugas Polres Madiun Kota berhasil menangkap seorang pria yang melakukan pemerasan terhadap anggota DPRD Kota Madiun hingga mengalami kerugian jutaan rupiah.

Kepala Subbagian Humas Polres Madiun Kota AKP Ida Royani, Senin, mengatakan tersangka adalah Yani Kusnadi alias Dewa (57) warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur.

"Tersangka diduga melakukan aksi penipuan terhadap Endang Winaryanti, seorang anggota DPRD Kota Madiun," ujar Ida.

Polisi langsung melakukan penyelidikan setelah mendapat laporan dari korban. Tersangkapun dapat ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan.

Adapun modus operandi yang digunakan tersangka adalah dengan menyamar sebagai Direktur Investigasi KPK. Untuk meyakinkan korban, pelaku juga mengenakan jaket yang berlogo Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Pelaku saat ini telah diamankan di Mapolres Madiun Kota. Sejauh ini baru ada satu orang anggota dewan yang melaporkan kejadian tersebut ke polisi," katanya.

Berdasarkan keterangan korban, penipuan dan pemerasan tersebut bermula saat pelaku mendatangi kantor DPD PAN Kota Madiun di Jalan Panjaitan pada akhir Juli lalu.

Pelaku beralasan, kedatangannya di Kota Madiun bersama tim KPK sedang melakukan pemeriksaan guna pengembangan kasus korupsi dan gratifikasi yang menjerat mantan Wali Kota Madiun, Bambang Irianto.

Kemudian, pelaku menakuti-nakuti jika KPK menemukan data adanya aliran uang hasil korupsi Bambang Irianto ke sejumlah anggota DPRD, termasuk nama korban.

Namun, apabila korban menginginkan namanya dihapus dari daftar pemeriksaan KPK, maka harus menyerahkan uang sebesar Rp20 juta.

Korban yang percaya lalu menyanggupi permintaan pelaku.

Sebagai tahap awal, korban lalu memberikan uang Rp6 juta kepada pelaku. Uang Rp5 juta diberikan di salah satu rumah makan di Kota Madiun dan Rp1 juta diberikan di kediamannya. Sedangkan sisanya Rp14 juta belum sempat diberikan.

Kecurigaan korban atas aksi pemerasan tersebut muncul saat pelaku meminta dibelikan empat telepon genggam ketika menerima uang Rp6 juta. Pelaku berdalih, telepon genggam tersebut akan dipakainya sendiri dan lainnya digunakan oleh timnya.

Merasa ditipu dan diperas, politisi dari PAN tersebut langsung melapor ke polisi. Kasus tersebut kini masih didalami oleh Satuan Reskrim Polres Madiun Kota.

Baca juga: Polisi tangkap empat wartawan gadungan terkait pemerasan
Baca juga: Tiga polisi gadungan melakukan pemerasan dibekuk
Baca juga: Polisi gadungan peras warga Sukabumi

 

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Investigasi pemerasan berbau asusila Napi di Bandung

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar