Dedi Mulyadi kecewa kepada Rano Karno

Dedi Mulyadi kecewa kepada Rano Karno

Bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tiba di RS Hasan Sadikin untuk jalani pemeriksaan kesehatan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/1/2018). Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat akan mengikuti serangkaian pemeriksaan sebagai syarat pencalonan. (ANTARA /M Agung Rajasa)

Karawang (ANTARA News) - Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku kecewa kepada Rano Karno karena terlalu kaku dan seakan-akan tidak bertanggungjawab.

Kekecewaan terhadap Rano Karno yang berperan sebagai Si Doel itu disampaikan usai menyaksikan Film "Si Doel The Movie" di Resinda Park Mall XXI Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin.

"Si Doel kurang mencerminkan sebagai laki-laki yang bertanggung jawab. Doel terlalu kaku dan galau, sehingga Sarah harus kecewa," katanya.

Seharusnya, kata dia, Doel berusaha mencari Sarah yang pergi ke Belanda selama 15 tahun.

"Ending-nya saja yang membuat sedikit kecewa. Tetapi terlepas dari itu semua, film ini sangat bagus," kata Dedi seraya menyebutkan kalau karya film Rano Karno itu luar biasa.

Mantan Bupati Purwakarta dua periode ini mengatakan, Film Si Doel The Movie besutan Rano Karno menampilkan realitas kebudayaan di tengah masyarakat. Sehingga, pesan dari film tersebut dapat ditangkap penonton dengan mudah.

"Filmnya original dan menjadi cermin realitas kebudayaan. Masyarakat kita ini original juga, lihat saja Bang Mandra. Sosoknya apa adanya, lucu dan memiliki integritas yang kuat," kata Dedi yang khas dengan ikat kepala itu.
Artis pemeran film Si Doel The Movie Rano Karno (kiri), Cornelia Agatha (kedua kiri), Maudy Koesnaedy (kedua kanan) dan Mandra (kanan) menghadiri ajang temu penggemar di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/7/2018). Film bergenre drama komedi yang mulai tayang secara serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 2 Agustus 2018 tersebut mengisahkan drama kelanjutan cerita dalam sinetronnya. (ANTARA/Yulius Satria Wijaya)


Ia juga menyarankan agar dunia perfilman Indonesia juga menyajikan nilai moral dan fokus pada originalitas. Hal ini penting mengingat orientasi produk budaya sebenarnya harus diarahkan pada proses edukasi.

"Karya budaya itu harus berorientasi pada nilai, ada pendidikan untuk rakyat di sana. Jadi, tidak semata profit yang menjadi tujuan. Boleh kita mengejar nilai ekonomi, tetapi aspek budaya dan edukasi harus tetap berada di depan," kata dia.

Ia mengaku tidak pernah melewatkan tayangan "Si Doel Anak Sekolahan" saat ditayangkan kembali di salah satu televisi swasta.

"Saya ini pemirsa sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan'. Hampir setiap hari saya nonton. Kebetulan Bung Rano Karno mengangkatnya menjadi film. Jadi, sekalian saja bawa keluarga untuk nonton filmnya," kata dia.

Baca juga: Dedi Mulyadi bongkar rumah anak yatim di Karawang

Baca juga: Nostalgia dan jawaban di "Si Doel The Movie"

Baca juga: Tinggalkan dunia sinetron, Cornelia Agatha sibuk urus anak kembarnya

Baca juga: Secuil cerita Rano Karno soal "Si Doel The Movie"

Pewarta: M.Ali Khumaini
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pandangan Komisi IV terkait impor bawang putih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar