counter

Pengemudi taksi daring di Lampung ancam mogok

Pengemudi taksi daring di Lampung ancam mogok

Ilustrasi saat demonstrasi pengemudi taksi online. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Bandarlampung, Lampung (ANTARA News) - Jelang perhelatan akbar Asian Games ke-18 yang akan digelar di dua kota besar Jakarta dan Palembang, 18 Agustus- 2 September 2018 mendatang, pengemudi taksi berbasis daring di Lampung, khususnya Mitra PT Gojek Indonesia mengancam mogok beroperasi.

Koordinator aksi, Febi AR, di Bandarlampung, Rabu, mengungkapkan keprihatinannya, sebab di tengah hiruk pikuk jelang perhelatan Asian Games tentu permintaan akan jasa angkutan akan semakin tinggi.

Kendati demikian, kata Far, sapaan akrabnya, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan penghasilan para driver online, sehingga para driver kembali akan melakukan aksi mogok.

Menurut Far, aksi mogok dipicu kebijakan perusahaan yang menaikkan jumlah trip dan menurunkan jumlah insentif.

"Ya, kami sepakat untuk Offbid. Sampai ada kebijakan baru dari pihak aplikator," kata Far pula.

Dia menuturkan, pihaknya menyadari aksi mogok yang dilakukan bertentangan dengan semangat pemerintah untuk menyukseskan Asian Games 2018.

Apalagi Lampung adalah salah satu kota destinasi para tamu negara, baik atlet maupun suporter dan tim dari negara-negara Asia.

"Pemerintah selalu memandang sebelah mata keberadaan kami. Karenanya kami melakukan aksi mogok ini. Kita lihat saja bagaimana jika tanpa taksi online," kata Far lagi.

Tidak hanya aksi mogok, lanjut Far, pihaknya juga akan menggelar aksi protes dengan melibatkan massa dalam jumlah besar.

"Ini Kali ketiga aplikator mengeluarkan kebijakan yang merugikan pengemudi sebagai mitra. Selama ini kami menerima dengan lapang dada. Tapi, kali ini kami merasa kebijakannya sudah tidak rasional, sehingga kami akan melakukan aksi besar-besaran," ujarnya lagi.

Terpisah, salah satu pengurus koperasi taksi online, Indra Syahreza mengatakan, pihaknya menyesalkan kebijakan aplikator yang dinilai hanya mementingkan keuntungan perusahaan tanpa memikirkan nasib para mitranya.

"Kami ini mitra, seharusnya diajak bicara terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan. Sudah tiga kali menaikkan trip dan menurunkan insentif, tanpa melibatkan mitra," ujar pria yang akrab disapa Reza ini lagi.

Menurut Reza, kehadiran taksi online sebagai buah kemajuan teknologi tak bisa dielakkan. Apalagi kehadirannya dirasa cukup membantu setiap hajat pemerintah, baik di daerah terlebih di ibu kota. Karena itu, menurutnya pemerintah harus segera mengambil tindakan.

"Ya, pemerintah harus segera ambil tindakan untuk memanggil pihak aplikator, mengingat jika aksi mogok ini berlangsung lebih lama, tentu akan mengganggu pelaksanaan Asian Games," kata Reza pula.

Lebih lanjut Reza mengatakan, selama ini driver sebagai mitra sudah cukup sabar dengan kebijakan penurunan insentif yang dilakukan aplikator. Padahal, kata Reza, para driver sebagai mitra telah banyak membantu aplikator dengan menjadi alat promosi.

Pewarta: Budisantoso Budiman
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Ribuan pengemudi ojek daring demo kantor Gojek

Komentar