Pulau Seribu punya "ecoranger" tangani sampah laut

Pulau Seribu punya "ecoranger" tangani sampah laut

Seorang WNA memungut sampah plastik yang berhamburan di pinggir pantai di Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB, Kamis (9/8/2018). Kondisi pulau wisata tersebut sepi pascagempa yang terjadi pada 5 Agustus lalu, meski sejumlah WNA dan warga lokal masih bertahan di pulau itu. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Saat ini kami fokus dulu (ecoranger) di Kepulauan Seribu, kalau berhasil konsep ini akan kami lanjutkan ke lokasi lain
Kepulauan Seribu, (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu bekerja sama dengan perusahaan swasta di bidang cat dan pelapis Akzonobel mengukuhkan pembentukan kelompok "Ecoranger" untuk berperan aktif dalam bantuan penanganan sampah laut, terutama plastik.

"Bahaya plastik itu sangat nyata, terutama yang masuk ke laut menjadi mikroplastik, dikonsumsi biota laut. Permasalahan sampah plastik masih jadi hal utama di perairan Indonesia," tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jumat.

Ia menuturkan, Ecoranger yang dikukuhkan berjumlah 15 personel dan berlatar belakang sebagai nelayan dari dua pulau, yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.

Para Ecoranger tersebut akan mendapatkan pelatihan yang diberikan oleh Akzonobel berupa teknik pengecatan kapal serta pelatihan pengolahan sampah plastik agar memiliki nilai ekonomi dan menambah pemasukan para nelayan tersebut.

"Kami memang menjalin kerja sama dengan sejumlah CSR (tanggung jawab sosial perusahaan)  dan punya komitmen mendukung upaya penjagaan lingkungan. Ecoranger ini akan dilatih sehingga bisa menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat di Kepulauan Seribu," kata Adji.

Country Manager Akzonobel Marine Coatings Indonesia Junot Wijaya mengatakan bahwa upaya menjaga lingkungan merupakan sebuah nilai perusahaan yang harus dijalankan selain pengembangan produk.

Baca juga: 1,3 juta ton plastik kemasan rusak lingkungan

"Kami harus pikirkan dampak positif bagi masyarakat luas. Saat ini kami fokus dulu (Ecoranger) di Kepulauan Seribu, kalau berhasil konsep ini akan kami lanjutkan ke lokasi lain," kata Junot.

Selain memberikan pelatihan kepada nelayan yang dikukuhkan sebagai Ecoranger, Akzonobel juga memberikan bantuan kepada mereka berupa produk cat yang diaplikasikan khusus untuk kebutuhan kapal atau maritim.

"Saya dengar nelayan bisa sampai tiga kali per tahun mengecat kapal mereka, tentu memakan biaya besar. Kami berikan cat khusus ini yang lebih awet dan mereka tidak perlu berulang-ulang mengecat, jadi kegiatan mereka dalam mencari ikan sambil mengambil sampah tidak terganggu," katanya.

Ecoranger merupakan konsep kerja sama antar pemda, pihak swasta, dan masyarakat dengan tujuan menanggulangi masalah sampah yang berada di perairan.

Dalam satu hari, DKI Jakarta menghasilkan sampah sekitar 7.000 ton dan sekitar 1.900-2.400 ton di antaranya merupakan sampah plastik dan ratusan ton berada di sungai dan perairan.

Baca juga: Indonesia darurat sampah plastik, butuh kebijakan disinsentif bagi produsen
 

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Selesaikan masalah sampah medis

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar