Kemenkes kirim 60 dokter ortopedi ke Lombok

Kemenkes kirim 60 dokter ortopedi ke Lombok

Warga korban gempa mendapatkan perawatan di luar Puskesmas Sembalun Selong, Lombok Timur, NTB, Minggu (29/7/2018). Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa pertama kali mengguncang Lombok Timur dengan kekuatan 6,4 skala Richter (SR) pada pukul 06.47 Wita. (ANTARA FOTO/Zakir)

Jakarta,   (ANTARA News) - Kementerian Kesehatan mengirimkan 60 dokter spesialis ortopedi untuk menolong para korban gempa di Lombok yang diketahui paling banyak menderita patah tulang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip di Jakarta, Jumat, menunjukkan jumlah pasien sebanyak 266 orang dengan pasien yang dioperasi sebanyak 139, dan 135 di antaranya mengalami patah tulang, tiga orang cedera kepala, dan 50 orang sudah dipulangkan, serta tujuh orang wisatawan asing mengalami luka ringan.

"Kami mengirim banyak dokter ortopedi, ada 60 orang, sedangkan dokter spesialisnya total ada 78 orang. Ini data sementara dan masih bisa berubah," kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Kementerian Kesehatan telah mengerahkan dokter dari perguruan tinggi maupun RSUD dari Makassar, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Sementata tenaga nonkesehatan mencapai 222 orang.

Saat ini unit kegawatdaruratan dilakukan tindakan di rumah sakit yang disiagakan RS Kota Mataram dan rumah sakit terapung KRI dr. Soeharso.

Berdasarkan laporan juga ada sembilan Puskesmas yang tidak dapat dipakai. Untuk itu setiap korban yang perlu dirujuk akan langsung dikirim ke rumah sakit menggunakan ambulans.

"Perlu juga adanya Posko Kesehatan untuk penanganan korban luka ringan dan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit," ucap Menkes.

Nila mengatakan dirinya mewakili Kemenkes menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak seperti dari Bali, Yogyakarta, Jakarta yang bersama-sama menolong korban.

 Baca juga: Artikel - Pemodelan ungkap kenaikan daratan pascagempa Lombok
Baca juga: Warga perbukitan tempuh 10 kilometer cari air

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar