Menkopolhukam upayakan alih teknologi tinggalkan bakar lahan

Menkopolhukam upayakan alih teknologi tinggalkan bakar lahan

Petugas Manggala Agni berusaha memadamkan kobaran api ketika terjadi kebakaran lahan di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu (11/8/2018). Sulitnya akses jalan menuju lokasi lahan yang terbakar dan kencangnya hembusan angin sempat membuat petugas kewalahan untuk memadamkan kebakaran tersebut. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan telah mengupayakan alih teknologi agar para peladang tidak perlu membakar hutan dan lahan.

"Namun, perlu biaya mahal karena harus melibatkan alat berat untuk membongkar bonggol kayu. Cara paling mudah memang dibakar," kata Wiranto saat jumpa pers seusai rapat koordinasi khusus di Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Selasa.

Wiranto mengatakan salah satu kesulitan mengatasi kebakaran hutan dan lahan karena pembakaran sudah menjadi kebiasaan masyarakat peladang setempat untuk membuka lahan.

Biasanya, pembakaran hutan dan lahan dilakukan pada musim kemarau. Selanjutnya, tanaman akan tumbuh pada musim penghujan.

"Namun, api dan angin tidak bisa diajak kompromi. Kalau tidak diawasi dan ditertibkan, api bisa menjalar," katanya.

Karena itu, perlu ada program pengawasan ketat yang melibatkan tim terpadu di desa dan kecamatan. Penginderaan satelit cukup membantu memantau keberadaan titik api yang muncul.

"Tapi penginderaan satelit tidak cukup. Tetap perlu ada patroli dari aparat setempat untuk memastikan. Bila benar ada kebakaran hutan, maka akan dilaporkan ke pos komando untuk diambil tindakan," jelasnya.

Wiranto mengatakan sejak 2000, Indonesia kerap mendapat keluhan setiap tahun dari negara tetangga tentang asap dari kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.

"Usaha ekstra keras untuk memperbaiki sistem dan prosedur cara menanggulangi kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan. Usaha cukup berhasil beberapa tahun ini, asap berhasil ditekan," katanya.

Kebakaran hutan dan lahan yang kemungkinan terjadi pada 2018 dikhawatirkan menimbulkan masalah karena beberapa titik api berada dekat dengan penyelenggaraan Asian Games, terutama Stadion Jakabaring di Palembang.

"Dengan kerja sama dan kerja keras sungguh-sungguh semua pemangku kepentingan, dijamin penyelenggaraan Asian Games di Palembang aman dari asap," ujarnya. 

Baca juga: Titik panas indikasi kebakaran hutan tersebar di Pulau Sumatera
 Baca juga: Sebagian besar hutan-lahan Riau dalam keadaan mudah terbakar
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar