Mantan teroris ikrar setia NKRI usai upacara kemerdekaan

Mantan teroris ikrar setia NKRI usai upacara kemerdekaan

Mantan kombatan Ali Fauzi Mandi mewakili kawan-kawannya dari Yayasan Lingkar Perdamaian membacakan ikrar setia kepada NKRI usai mengikuti upacara peringatan kemerdekaan di Alun-alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Jumat (17/8/2018). (Istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Mantan kombatan yang tergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian berikrar setia kepada NKRI usai mengikuti upacara peringatan kemerdekaan di Alun-alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Jumat.

Ikrar setia dibacakan oleh Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi Manzi, eks teroris yang juga adik kandung Amrozi, pelaku Bom Bali 1, mewakili kawan-kawannya.

Mereka berikrar cinta dan setia kepada NKRI, siap menjadi duta perdamaian dengan merajut ukhuwah atau persaudaraan, taat dan patuh kepada aturan kehidupan berbangsa dan bernegara, membantu aparatur negara dalam penanganan radikalisme dan terorisme di Indonesia, serta bersama TNI-Polri menjaga perdamaian dan keutuhan NKRI.

Menurut Ali Fauzi, ini adalah kali kedua ia dan kawan-kawannya mengikuti upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI. Tahun lalu peringatan HUT RI dilakukan Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan yang tak lain adalah kampung halamannya yang pernah dipakai sebagai tempat untuk merakit 1,2 ton Bom Bali 1.

"Ini menjadi tantangan bagi saya karena saya sering menerima pesan di sosial media yang mengatakan bahwa kami, Lingkar Perdamaian, hanya mau melakukan upacara di kandang sendiri (Tenggulun) saja, tidak mau di luar. Ini adalah bagian dari pembuktian bahwa di mana pun saja kani siap,' ujar Ali Fauzi dikutip dari siaran pers.

Di tempat terpisah, mantan teroris Khairul Ghazali menggelar upacara peringatan kemerdekaan RI di Pondok Pesantren Al Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, Sumatera Utara, yang dipimpinnya.

Seluruh petugas upacara adalah para santri yang notabene adalah anak-anak mantan kombatan, mulai komandan upacara, pengerek bendera merah putih, hingga pembaca UUD 1945. 

Baca juga: Anak mantan teroris kibarkan merah putih

Anak-anak mantan kombatan itu juga memeriahkan acara dengan menggelar drama kolosal tentang peristiwa heroik 10 November saat Bung Tomo dan arek-arek Surabaya berjuang hidup mati mengusir penjajah. 

"Tidak ada istilah anak teroris, anak-anak kita yang tampil tadi adalah harapan bangsa kita, jangan pernah ada stigma dari masyarakat, dampingi dan terima mereka," kata Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris yang hadir dan mengikuti upacara di pesantren itu bersama Direktur Perlindungan BNPT Brigjen Pol Herwan Chaidir.

Ia mengatakan BNPT telah menggandeng 36 lembaga dan kementerian untuk mengatasi masalah terorisme, termasuk para mantan narapidana terorisme dan keluarganya. 

"Intinya, BNPT berupaya agar para mantan napiter dan keluarganya bisa hidup layak, agar jangan ada lagi jaringan yang mengajak mereka kembali menjadi pelaku terorisme dan terjebak oleh aturan hukum," katanya.

Baca juga: BNPT terus bina mantan jaringan teroris

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar