Banjir surut, ketakutan akan wabah mulai muncul di Kerala

Banjir surut, ketakutan akan wabah mulai muncul di Kerala

Taj Mahal Sejumlah wisatawan mengunjungi obyek wisata sejarah Taj Mahal di Agra, India, beberapa waktu lalu. Situs warisan dunia Taj Mahal dibangun pada 1630-1653 atas perintah Raja dinasti Mughal, Shah Jahan, sebagai makam sekaligus untuk monumen untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal. (ANTARA FOTO/Ismar Patrizki)

Kochi, India (ANTARA News) - Banjir yang melanda Provinsi Kerala, negara bagian di baratdaya India, akhirnya surut pada Ahad, memberikan kelonggaran bagi ribuan kepala keluarga yang terdampar, sementara pihak berwenang takut akan wabah penyakit di antara dua juta orang yang berjejal di kamp-kamp pengungsian.

Hujan yang turun sejak 8 Agustus telah menyebabkan banjir terparah di negara bagian itu dalam satu abad, dan sedikitnya 186 orang telah meninggal. Banyak di antara mereka terkubur tanah longsor.

Departemen Meteorologi India meramalkan curah hujan lebat hanya terjadi di satu atau dua tempat di Kerala pada Ahad, dan di beberapa tempat air banjir mulai surut.

Militer India telah memimpin usaha-usaha pertolongan untuk mencapai orang-orang di berbagai kawasan yang terputus selama beberapa hari banjir, banyak yang terperangkap di atap-atap rumah dan lantai-lantai atas dari rumah-rumah mereka, dan sangat memerlukan bantuan makanan dan air minum.

Tim-tim penolong difokuskan di kota Chengannur yang berada di tepi-tepi Sungai Pamba, tempat sekitar 5.000 orang dikhawatirkan terperangkap, kata pejabat-pejabat, demikian Reuters melaporkan.

Baca juga: PM India berkemah di Kerala, yang dilanda banjir

Anil Vasudevan, yang menangani manajemen bencana di Departemen Kesehatan Kerala, mengatakan pihak berwenang telah mengisolasi tiga orang karena mengidap cacar air di salah satu kamp pengungsin di kota Aluva, hampir 250 km dari Thiruvananthapuram, ibu kota Kerala.

Dia mengatakan departemen ini siap mengatasi kemungkinan wabah di kamp-kamp, tempat sekitar dua juta orang telah berlindung sejak hujan monsoon mulai terjadi tiga bulan lalu.

Pada Sabtu malam, Menteri Besar Pinarayi Vijayan mengatakan tak terjadi kekurangan pangan di negara bagian itu karena para pedagang telah telah menyimpan makanan menjelang sebuah festival.

"Satu-satunya masalah ialah mengangkutnya," kata menteri besar itu kepada wartawan. "Pemerintah pusat dan publik telah bekerja dengan baik dalam usaha ini untuk mengatasi bencana."

Ia juga mengatakan Perdana Menteri Narendra Modi, yang mengunjungi negara bagian itu pada Sabtu, mengumumkan bantuan senilai 5 miliar rupee, jauh yang dimintanya sebesar 20 miliar rupee.

Syeh Mohammed bin Rashid Al Maktoum dari Uni Emirat Arab juga telah menawarkan bantuan ke negara bagian itu. Banyak orang dari Kerala bekerja di UAE.

 

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar