Greenpeace aksi pasang peringatan kualitas udara Jakarta

Greenpeace aksi pasang peringatan kualitas udara Jakarta

Aktivis Greenpeace Indonesia memasang data kualitas udara pada poster berukuran raksasa dengan pesan #WeBreatheTheSameAir di sebuah papan iklan raksasa di Jakarta, Selasa (21/8/2018). Maksud angka 152 yang tercantum pada poster menurut aktivis Greenpeace merupakan Indeks Kualitas Udara (air quality index/AQI) Jakarta yang tidak sehat dari parameter PM 2.5. (Foto Greenpeace Indonesia)

Pemerintah harus mencari solusi nyata, karena mata dunia sedang tertuju pada Indonesia sebagai penyelenggara pesta olahraga terbesar se-Asia
Jakarta  (ANTARA News) - Aktivis Greenpeace Indonesia memasang data kualitas udara pada poster berukuran raksasa di sebuah papan iklan dengan pesan #WeBreatheTheSameAir di sebuah papan iklan raksasa di Jakarta, Selasa.

Aksi memanjat billboard untuk memasang data kualitas udara Jakarta berukuran besar di Jalan Jend. Gatot Soebroto (halaman Taman Ria Senayan) ini sekaligus memberikan peringatan kepada publik serta para delegasi pesta olahraga Asian Games, kata Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu.

Greenpeace memasang data kualitas udara Jakarta yang diambil dari rata-rata lima pemantauan alat kualitas udara milik beberapa institusi berbeda, yakni BMKG di Kemayoran, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Pusat dan Selatan, serta tiga alat lainnya milik Greenpeace Indonesia yang berlokasi di Rawamangun, Pejaten Barat dan Mangga Dua Selatan.

Angka yang disajikan tersebut juga bisa diakses oleh publik melalui website https://www.airvisual.com/indonesia/jakarta.

Berdasarkan data yang diolah dari dua stasiun pantau PM 2.5 di Jakarta Pusat dan Selatan, dalam satu bulan terakhir kualitas udara di Jakarta memiliki lebih dari 22 hari yang masuk ke dalam kategori tidak sehat.

Bahkan menurut versi aplikasi pemantauan udara AirVisual, Jakarta menduduki nomor satu predikat kualitas udara buruk di antara kota-kota besar di dunia pada 11 Agustus 2018, di mana angka rata-rata harian di Stasiun Pantau PM 2.5 di Kemayoran Jakarta milik BMKG menunjukan angka 87,3 mikrogram per meter kubik (?g/m?), kata Bondan.

Sementara data stasiun pemantauan ISPU pada tanggal yang sama di Jagakarsa, Kelapa Gading dan Kebon Jeruk milik Pemerintah DKI Jakarta, juga menunjukan kategori tidak sehat.

"Pemerintah harus mencari solusi nyata, karena mata dunia sedang tertuju pada Indonesia sebagai penyelenggara pesta olahraga terbesar se-Asia. Solusi menekan sumber polusi harus dilakukan dalam satu komando yang jelas, karena ini akan mencakup lintas Kementerian dan kepentingan, mulai dari permasalahan transportasi, industri sampai pembangkit yang harus dibatasi dan diatur secara ketat," kata Bondan.

Ia mengatakan kualitas udara yang buruk dapat  membahayakan kesehatan warga dan meningkatkan risiko kematian dini. Partikel polutan yang paling berbahaya PM 2.5 dapat terhirup dan mengendap di organ pernapasan.

Jika terpapar dalam jangka panjang, lanjutnya, PM 2.5 dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut terutama bagi anak-anak, hingga kanker paru-paru. Selain itu, PM 2.5 dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang dapat memicu stroke, penyakit kardiovaskular dan penyakit jantung lainnya, serta dapat membahayakan ibu hamil karena berpotensi menyerang janin.

"Ini adalah ancaman kesehatan nyata bagi semua orang, mulai dari balita, anak-anak, atlet dunia yang saat ini berkunjung ke Jakarta hingga jutaan pekerja yang setiap harinya hilir mudik di Jakarta. Ini adalah kepentingan kita bersama, akses terhadap udara bersih adalah hak hidup masyarakat," ujar Bondan.

Baca juga: Aturan baku mutu udara sudah harus direvisi menurut kelompok lingkungan
Baca juga: Jakarta akan tambah stasiun pemantau kualitas udara

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sisi lain COVID-19, kualitas udara membaik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar