Nurtiah, kembali ke GBK mengenang Asian Games 1962

Nurtiah, kembali ke GBK mengenang Asian Games 1962

Nurtiah Purnisatiti, saksi sejarah perhelatan Asian Games 1962, saat mengunjungi stadion akuatik di kawasan Gelora Bung Karno, Selasa. (ANTARA News/Monalisa)

"Dulu itu GBK rasanya paling hebat karena tidak tahu pembandingnya. Bung Karno memang luar biasa. Tetapi sekarang sudah jauh lebih bagus lagi, "
Jakarta (ANTARA News) - Dari atas kursi rodanya, Nurtiah Purnisatiti, didampingi anak dan cucunya, mengelilingi stadion akuatik di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Selasa sore.  Ia menyusuri setiap sudut stadion yang sudah dipercantik menjelang perhelatan Asian Games 2018.

Nurtiah pun dibuat terkesima. Masih kuat dalam ingatan nenek dari 13 cucu itu bagaimana kondisi stadion akuatik di GBK pada 56 tahun lalu. Saat itu, kawasan GBK baru saja dibangun untuk menyambut pesta  olahraga Asian Games 1962.

Ketika itu, Nurtiah dan mendiang suaminya, Ahmad Paris, datang jauh-jauh dari Cianjur hanya untuk melihat pertandingan renang dan polo air. Renang memang olahraga favorit Nurtiah, sehingga pada saat itu ia hanya ingin menonton pertandingan renang, polo air, dan renang indah.

Sejoli yang masih pengantin baru itu menuju Jakarta dengan mengendarai mobil pribadi. Waktu itu usia Nurtiah yang akrab dipanggil Ibu Paris--mengikuti nama suaminya, masih berusia 23 tahun. Kini usia Nurtiah sudah menginjak 79 tahun. Suaminya telah tiada sejak 18 tahun lalu. Begitu ia tahu bahwa Asian Games kembali digelar di Jakarta, ibu dari tujuh anak itu bertekad untuk bernostalgia di stadion akuatik, meskipun tanpa suaminya.

"Saya ke sini sekedar ingin mengenang masa lalu, bernostalgia. Saya bersyukur kepada Allah SWT masih bisa melihat perkembangan yang pesat ini meskipun kali ini tanpa suami saya," kata Nurtiah kepada Antara.

Nurtiah berangkat dari Cianjur dengan kendaraan pribadi pada Sabtu (18/8) lalu. Baru hari ini ia bisa melihat-lihat stadion akuatik dan menonton pertandiangan sebentar.

"Tadi saya foto-foto di dalam. Saya sudah tidak tahu lagi atlet sekarang tetapi saya selalu suka melihat olahraga renang," ujar perempuan yang dulunya juga gemar bermain olahraga tenis meja itu.

Nurtiah ingat betul, dulu kawasan GBK berdiri megah di pusat kota Jakarta dan menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.

"Dulu itu GBK rasanya paling hebat karena tidak tahu pembandingnya. Bung Karno memang luar biasa. Tetapi sekarang sudah jauh lebih bagus lagi, terutama stadion akuatik ini," tuturnya.

Menjelang Asian Games ke-18, stadion akuatik memang direnovasi besar-besaran untuk menyambut atlet dari 45 negara. Berkapasitas 8.000 penonton, Stadion Akuatik GBK telah memenuhi standar organisasi renang dunia FINA.

Baca juga: Artikel Asian Games - Stadion akuatik Asian Games

Baca juga: Ranomi jajal kolam renang Stadion Akuatik GBK

Baca juga: Elsa Manora Nasution sebut stadion akuatik GBK sekelas arena Singapura


"Tetapi kalau dulu nonton pertandingan Asian Games itu gratis, kalau sekarang kan harus beli tiket," ungkap Nurtiah.

Nurtiah termasuk paling beruntung, meskipun tidak tinggal di Jakarta tetapi ia bisa menjadi saksi sejarah  perhelatan Akbar olahraga Asian Games 1962. Padahal saat itu kondisi masyarakat Indonesia, menurut Nurtiah, begitu susah.

"Susah makan, susah mendapat pakaian," kata Nurtiah.

Suami Nurtiah yang sehari-hari bekerja di Jakarta hanya seminggu sekali pulang ke Cianjur. Waktu itu, tahun 1960-an, mereka sudah mampu membeli televisi. Jadilah mereka satu-satunya rumah yang mempunyai televisi di kampung mereka di Rancabali Wetan, Cianjur.

"Dulu semua tetangga kalau nonton tv ke rumah saya, mereka menonton dari luar lewat jendela," kata Nurtiah.

Akan tetapi, saat pembukaan Asian Games 1962, Nurtiah yang tinggal di Cianjur tidak dapat menikmati siaran langsung karena siaran TVRI ketika itu masih terbatas hanya untuk kota Jakarta Raya dan sekitarnya.

"Dulu kan di Indonesia baru ada TVRI," ujarnya seraya menambahkan kekaguman dia terhadap pembukaan Asian Games 2018 yang menurutnya begitu spektakuler.

"Sebagai orang Indonesia saya bangga. Pembukaan kemarin itu hebat, luar biasa dari awal hingga akhir," tambahnya.

Senja baru saja berganti malam. Nurtiah segera berbuka puasa, mengunyah kurma yang ia bawa di atas kursi rodanya.

"Malam ini saya langsung pulang ke Cianjur," ujar Nurtiah sambil memandangi lama ke stadion akuatik dari dekat pintu keluar.

Baca juga: Menghadirkan kembali kenangan Asian Games 1962

Baca juga: Mengenang Acara Pembukaan Asian Games 1962

Baca juga: Presiden OCA: SUGBK warisan Asian Games 1962

 

Pewarta: Monalisa
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar