Pakar: Cegah stunting dengan memantau tumbuh kembang

Pakar: Cegah stunting dengan memantau tumbuh kembang

Menteri Kesehatan Nila Moeloek (kiri) melihat absensi bayi di pos gizi Desa Haya-Haya, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Selasa (17/7/2018). Pemerintah Kabupaten Gorontalo berhasil menurunkan persentase penderita Stunting dari kondisi awal 40,8 persen menjadi 10 persen pada tahun 2018 melalui pendampingan 1.000 hari pertama kelahiran, pos gizi serta gugus tugas. (ANTARA /Adiwinata Solihin)

Masukan kami untuk pemerintah yakni, perlu terus dilakukan revitalisasi posyandu di tiap desa, karena posyandu ini memegang peran strategis dalam berbagai program pencegahan stunting,
Purwokerto,  (ANTARA News) - Orang tua bisa mencegah stunting atau kekerdilan dengan memantau tumbuh kembang anak-anak mereka secara berkala di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya sebagai upaya deteksi dini.

"Pastikan memantau tumbung kembang anak balita secara teratur, bisa melalui posyandu atau periksa rutin ke dokter," kata dokter spesialis anak dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Kabupaten Banyumas, dr. Agus Fitrianto, Sp.A, di Purwokerto, Minggu.

Dia menambahkan, orang tua perlu memastikan jika tumbuh kembang anaknya terpantau dan didokumentasikan di buku atau kartu menuju sehat (KMS) anak.

"Hal itu bisa menjadi upaya deteksi dini terhadap stunting, dan deteksi dini sangat penting dilakukan agar masalah kekerdilan pada anak dapat dikelola dengan baik dan optimal," katanya.

Dia menjelaskan, berdasarkan pengalaman yang dia temui saat praktik, banyak orang tua yang baru mengetahui anaknya mengalami stunting setelah membawa anaknya berobat dengan disertai keluhan lain seperti batuk, demam, atau diare.

"Banyak orang tua tidak menyadari masalah stunting. Setelah dilakukan pemeriksaan antropometri rutin baru mereka memiliki perhatian. Untuk memastikan diagnosa stunting wajib dilakukan pengukuran antropometri panjang atau tinggi badan secara akurat, kemudian diplotkan ke grafik standar tinggi badan sesuai umur," katanya.

Dia menambahkan, stunting adalah indikator kekurangan energi dan protein dalam waktu lama atau malnutrisi kronik yang biasanya terjadi dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun.

"Padahal periode usia ini adalah waktu dimana otak sedang berkembang cepat. Artinya jika anak stunting dipastikan perkembangan otaknya juga tidak maksimal. Setelah orang tua dijelaskan masalah ini, mereka biasanya baru tersadar bahwa anaknya harus sembuh dari masalah stunting," katanya.

Sementara itu, dia juga mengatakan, pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi mengenai stunting kepada seluruh orang tua, mulai dari wilayah perkotaan hingga ke wilayah pedesaan.

"Masukan kami untuk pemerintah yakni, perlu terus dilakukan revitalisasi posyandu di tiap desa, karena posyandu ini memegang peran strategis dalam berbagai program pencegahan stunting," katanya.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga perlu menyosialisasikan pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan pada anak, kepada seluruh masyarakat.

"Bahkan jika perlu materi tersebut disertakan dalam kurikulum pembinaan pada setiap calon pengantin sebelum mereka menikah dan memiliki anak," katanya.*

 

Baca juga: Lemahnya koordinasi hambat pemberantasan stunting

Baca juga: Perlu perbaikan banyak sektor turunkan angka kekerdilan


 

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar