Tunisia dan Maroko pelajari pembuatan vaksin ke Bio Farma

Tunisia dan Maroko pelajari pembuatan vaksin ke Bio Farma

Aktifitas penelitian di laboratorium di Biofarma Bandung,Jabar. Foto dokumentasi

Bandung  (ANTARA News) - Delegasi Tunisia dan Maroko yang mewakili Kementerian Kesehatan, Industri Vaksin Institute Pasteur de Tunis serta Institut Pasteur du Maroc, mengunjungi Bio Farma di Kota Bandung, Selasa, untuk mempelajari pembuatan vaksin mulai dari hulu ke hilir.

Delegasi Tunisia dan Maroko tersebut diterima oleh Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Roestan, Direktur Riset dan Pengembangan PT Bio Farma Adriansjah Azhari dan Direktur Produksi PT Bio Farma Juliman dan Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Bappenas, Wisnu Utomo.

Indonesia yang sudah ditetapkan menjadi Pusat Penelitian Vaksin di Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk bidang Vaksin dan Bio Teknologi pada Desember 2017 yang lalu, mulai menarik perhatian negara anggota OKI antara lain Tunisia dan Maroko, untuk mencari pengalaman dan pengetahuan mengenai pembuatan vaksin dari hulu sampai ke hilir untuk pembuatan vaksin.

Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Roestan mengatakan dari 57 negara anggota OKI, hanya sekitar tujuh negara yang sudah memiliki pabrik vaksin di negaranya, antara lain Indonesia, Saudi Arabia, Maroko, Tunisia, Mesir, Senegal, dan Iran.  Namun yang sudah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk vaksin dasar hanya Indonesia.

"Indonesia merupakan satu dari tujuh negara yang produk vaksin dasarnya sudah diakui oleh WHO, sehingga ini menjadikan delegasi Tunisia dan Maroko tertarik untuk belajar bagaimana manajemen dan produksi vaksin, Bio Farma dengan keahlian yang sudah diakui WHO, dengan senang hati untuk sharing dengan negara OKI lainnya," ujar Rahman.

Ia menambahkan saat ini sudah berjalan soal vaksin ke Saudi Arabia, kerja sama ini untuk memenuhi kebutuhan vaksin di negara Arab dan negara-negara teluk.

Mengenai produk vaksin yang akan dibantu oleh Bio Farma, untuk kerja sama ini antara lain, produk imunisasi dasar seperti Polio, campak, tetanus, difteri, pertusis dan yang terbaru adalah pentavalen, (DTP, Hb, Hib), sehingga mereka bisa memproduksi dan memenuhi kebutuhan vaksin secara mandiri.
 
Hasil produksi vaksin Biofarma Bandung,Jabar. Foto dokumentasi

Selain sharing mengenai produksi vaksin, Bio Farma juga akan mengajak negara anggota OKI, untuk melakukan penelitian secara bersama-sama untuk menemukan vaksin baru, untuk pencegahan penyakit baru, atau inovasi lainnya.

"Negara anggota OKI, memiliki banyak peneliti, yang bisa kita gabungkan untuk menemukan  penyakit baru ke depan dan tantangan kita adalah untuk menemukan vaksin dengan material yang tidak diragukan kehalalannya," jelasnya.

Program kerja sama penguatan Indonesia-Morocco-Tunisia Development Cooperation melalui Reverse Linkage (RL) ini dilaksanakan pada 27-30 Agustus 2018, di Jakarta dan Bandung, atas dukungan dari Menteri Perencanaan dan Pengembangan Nasional / Bappenas, Kementerian Kesehatan, Badan POM, dan Bio Farma.

 Baca juga: Bio Farma siap bantu capai kemandirian vaksin
Baca juga: Indonesia bagi pengalaman produksi vaksin dengan Tunisia-Maroko
Baca juga: Bio Farma kembangkan vaksin MR halal


 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Vaksin Sinovac 94 persen efektif cegah COVID-19 bergejala

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar