Bupati Malang paham kapan sapi birahi

Bupati Malang paham kapan sapi birahi

Ilustrasi - Siswa jurusan peternakan memberikan obat cacing pada seekor sapi di Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (18/4/2018). Pemberian obat tersebut untuk menghindarkan ternak dari cacing parasit dalam tubuh mereka yang berdampak pada penurunan daging, susu dan produktivitas ternak. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

dewan sering turun ke lapangan membantu para peternak. Sampai sekarang, sudah tak terhitung berapa banyak sapi yang sudah saya `hamili',
Malang, (ANTARA News) - Bupati Malang, Jawa Timur, Rendra Kresna, menyatakan paham betul tentang birahi hewan ternak, khsususnya sapi, yang di wilayahnya dikenal sebagai pemilik populasi sapi terbanyak se- Indonesia.

"Sebagai daerah penghasil sapi potong, Bupati Malang harus paham betul cara mengembangbiakkannya," ujarnya, saat menerima kunjungan wartawan dari Surabaya di Pendopo Kantor Bupati Malang, Rabu.

Populasi hewan ternak sapi di wilayahnya saat ini terdata berjumlah 234.482 ekor, yang merupakan penyumbang daging terbanyak di Provinsi Jawa Timur, serta tergolong paling banyak seluruh Indonesia.

Dengan jumlah penduduk 2.576.596 jiwa, dia menyebut Kabupaten Malang terbilang surplus daging sapi sebanyak 25 ton per tahun, yang dapat dibagikan untuk memenuhi kebutuhan daging di berbagai daerah lain.

"Sedikitnya 60 ribu anak sapi, atau pedet, lahir dari para peternak di Kabupaten Malang per tahun. Itu tak lepas dari keberhasilan kami memberitahu para peternak untuk memahami birahi sapinya, sehingga kemudian segera dilakukan inseminasi buatan," katanya.

Dia menjelaskan, birahi sapi milik para peternak di Kabupaten Malang diupayakan serentak, untuk kemudian dilakukan inseminasi buatan. "Hamilnya nanti juga serentak," katanya.

Sebagai bupati, yang sebelumnya mengawali karir politik dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selama tiga periode di kabupaten setempat, Rendra mengaku juga telah memahami cara mengenali sapi yang sedang birahi, untuk kemudian dilakukan inseminasi buatan.

"Karena dulu waktu masih menjadi anggota dewan sering turun ke lapangan membantu para peternak. Sampai sekarang, sudah tak terhitung berapa banyak sapi yang sudah saya `hamili`," ujarnya, sembari berseloroh.

Dia menjelaskan, mengenali sapi yang sedang birahi di Kabupaten Malang dikenal dengan istilah 3A, yaitu aboh (merekah), abang (memerah) dan anget (hangat). "Itu kalau diensiminasi banyak jadinya," katanya.

Dari cara itu, lanjut dia, peternak sapi di Kabupaten Malang dapat menuai hasil ekonomi yang memuaskan. Karena anak sapi dari hasil inseminasi buatan, yang berusia setahun pun bisa laku seharga Rp8,5 juta hingga Rp13 juta.

Kabupaten Malang mencatat peredaran uang di kalangan peternak dari hasil menjual sapi anakan mencapai Rp500 miliar pertahun. "Itu masih dari hasil inseminasi buatan, belum lagi sapi yang dilahirkan secara alami atau dengan cara tradisional," ujarnya.

Secara keseluruhan, dari hasil ternak sapi potong ini, Kabupaten Malang memberi sumbangsih senilai Rp2,3 triliun bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). "Itu masih sumbangsih PDRB dari sapi potong saja, belum termasuk sapi perah dan hewan ternak lainnya," ucap Bupati yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Jawa Timur.*

 

Baca juga: Solok jadikan Nagari Kinari sentra ternak sapi

Baca juga: Boyolali kembangkan "barcode" digital untuk ternak sapi


 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar