Warga Sebabi Kotim keluhkan pencemaran Sungai Seranau

Warga Sebabi Kotim keluhkan pencemaran Sungai Seranau

Ilustrasi - Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Ecoton mengangkat poster di samping replika ikan yang telah tercemar limbah popok saat menggelar aksi di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (31/7/2018). Mereka menyerukan agar pemerintah menyikapi masalah limbah popok sekali pakai yang terbuang di Sungai Brantas. Berdasarkan data Ecoton, diperkirakan sedikitnya satu juta sampah popok dibuang di Sungai Brantas dan menyebabkan pencemaran lingkungan. (ANTARA /Zabur Karuru)

Kita masih belum tahu dengan pasti apakah ikan itu mati akibat aliran sungai yang tercemar limbah atau akibat adanya oknum warga meracun atau sebagainya,
Sampit, (ANTARA News) - Ardiman, Warga Desa Sebabi, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluhkan tercemarnya aliran Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau.

"Akibat pencemaran itu ikan yang kami pelihara dalam keramba seluruhnya mati tidak tersisa," katanya, Kamis.

Ardiman menyatakan pencemaran itu terjadi sejak Minggu (26/8), aliran Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau diduga tercemar akibat limbah pabrik pengolahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) milik PT SSM.

"Kami menduga sungai kami ini tercemar limbah karena di bagian hulu sana ada pabrik pengolahan minyak kelapa sawit. Warna air Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau berubah menjadi coklat kehitaman dan dipermukaan air berkilauan semacam ada minyaknya," katanya.

Akibat perubahan warna air sungai dan bau minyak kelapa sawit itu juga telah membuat ribuan ikan di sungai dan keramba warga mati.

"Kami warga Desa Sebabi sangat dirugikan atas kejadian ini, saya berharap pihak perusahaan bisa bertanggungjawab dengan mengganti rugi kematian ikan kami dalam keramba itu," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sebabi Dematius mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Kecamatan Telawang dan perusahaan kelapa sawit yang memiliki pabrik di sekitar Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau.

"Memang sangat banyak ikan yang mati di aliran Sungai Buluh Tibung dan Sungai Seranau. Kami juga telah mengimbau kepada warga untuk tidak mengonsumsi ikan tersebut guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Dematius juga mengaku masih belum mengetahui secara pasti penyebab kematian ribuan ikan tersebut, namun demikian dia telah meminta pihak perusahaan untuk membantu kerugian warga yang ikan dalam kerambanya mati.

"Kita masih belum tahu dengan pasti apakah ikan itu mati akibat aliran sungai yang tercemar limbah atau akibat adanya oknum warga meracun atau sebagainya," tuturnya.

Dematius mengaku kejadian ini telah ditangani pihak pemerintah daerah dan aparat kepolisian dengan sebelumnya mengambil contoh air sungai yang diduga tercemar tersebut.*

 

Baca juga: Ikan di Waduk Kedung Ombo banyak mati mendadak

Baca juga: Sungai Citarum disebut terpolusi di dunia, Polres Bekasi turun tangan

 

Pewarta: Untung Setiawan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar