counter

Dampak Brexit, dolar AS melemah di tengah poundsterling-euro menguat

Dampak Brexit, dolar AS melemah di tengah poundsterling-euro menguat

Uang euro. (Public Domain Pictures)

"Kami melihat situasi di pasar negara-negara berkembang di mana penularan berubah menjadi sesuatu yang menyerupai wabah"
New York  (ANTARA News) -  Kurs dolar AS sedikit melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena poundsterling dan euro menguat menyusul laporan Bloomberg bahwa pemerintah Jerman dan Inggris telah mengabaikan tuntutan penting Brexit, yang berpotensi meringankan jalan bagi kesepakatan pemisahan.

Namun demikian, pelemahan umum di antara mata uang negara-negara berkembang mendukung dolar AS, sehingga menahan pelemahan dolar AS lebih lanjut.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen menjadi 95,154.

Indeks menyerahkan keuntungan awal perdagangan karena poundsterling melonjak setelah Bloomberg mengutip orang-orang yang akrab dengan masalah ini, mengatakan bahwa Jerman akan siap menerima perjanjian yang kurang rinci tentang hubungan ekonomi dan perdagangan masa depan Inggris dengan Uni Eropa dalam upaya untuk menyelesaikan kesepakatan Brexit.

Poundsterling Inggris menyerahkan sebagian dari keuntungannya, setelah Jerman muncul membantah laporan tersebut dan mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan untuk semua skenario Brexit, termasuk tidak ada kesepakatan.

Mata uang Inggris itu naik 0,4 persen menjadi 1,2905 dolar AS, sementara euro 0,39 persen lebih tinggi terhadap greenback di 1,1626 dolar AS.

"Kami telah memiliki semacam kegagalan posisi jangka pendek sampai batas tertentu," kata Karl Schamotta, direktur strategi FX dan produk-produk terstruktur di Cambridge Global Payments di Toronto, eperti dikutip dari Reuters.

Data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas yang dirilis pada Jumat (31/8) menunjukkan posisi net short  para spekulan pada mata uang Inggris itu,  berada pada 76.928 kontrak yang paling bearish  sejak Mei 2017.

"Kami telah mendengar desas-desus semacam ini sebelum mengangkat poundsterling dan harus diperlakukan dengan hati-hati," Neil Wilson, kepala analis pasar di Markets.com, mengatakan dalam sebuah catatan.

"Namun demikian itu masih menunjukkan tingkat pelemahan dalam nada umum pembicaraan dan bahwa kesepakatan lebih mungkin daripada tidak," kata Wilson.

Greenback tetap mendekati tertinggi multi-minggu terhadap sekeranjang mata uang pada Rabu (5/9), karena kekhawatiran tentang ketegangan perdagangan membuat investor tetap setia pada greenback sebagai mata uang safe-haven.

Trump dapat mengenakan tarif pada lebih dari 200 miliar dolar AS impor dari China setelah periode komentar publik tentang tarif baru berakhir pada Kamis, meskipun tidak jelas seberapa cepat itu akan terjadi.

Sementara itu, Kanada bersikeras masih ada ruang untuk menyelamatkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) setelah pembicaraan pada Rabu (5/9) dengan Amerika Serikat.

Mata uang negara-negara berkembang tetap lemah, di tengah kekhawatiran negara-negara berorientasi ekspor akan terjebak dalam bentrokan konflik perdagangan yang meningkat. Indeks Mata Uang negara-negara berkembang, MSCI EM, turun 0,16 persen, setelah tergelincir ke tingkat terendahnya sejak Mei 2017 pada awal sesi.

"Kami melihat situasi di pasar negara-negara berkembang di mana penularan berubah menjadi sesuatu yang menyerupai wabah," kata Schamotta.

Baca juga: Rupiah Rabu sore bergerak ke posisi Rp14.922

Baca juga: Dolar AS ditutup turun tipis


 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar