Aksi Kamisan di Bandung kenang Munir yang dibunuh pada 7 September

Aksi Kamisan di Bandung kenang Munir yang dibunuh pada 7 September

Arsip Suciwati, istri mendiang pejuang HAM Munir, menunjukkan salinan surat untuk Presiden Joko Widodo saat aksi Kamisan ke-371 bersama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2014). Aksi itu merupakan pertama kali ditujukan ke pemerintahan baru dan mereka mendesak Presiden baru Joko Widodo untuk menghapus impunitas dan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

Bandung (ANTARA News) - Sejumlah aktivis serta seniman asal Kota Bandung, Jawa Barat menggelar Aksi Kamisan ke-249 dengan mengangkat isu mengenang wafatnya aktivis Munir Said Thalib.

Salah satu seniman pantomim asal Kota Bandung Wanggi Hoediyatno mengatakan Aksi Kamisan ini digelar bertepatan dengan momentum terbunuh aktivis Munir pada 7 September.

"Di Kamisan kali ini mengangkat 14 tahun Munir yang sebetulnya tanggal 7, tapi karena hari Kamis jatuh pada tanggal 6 jadi seluruh gerakan menolak lupa Aksi Kamisan mengangkat tema yang sama," ujar Wanggi, usai aksi, Kamis.

Dalam aksinya, Wanggi mengangkat repertoar tentang ketidakseriusan pemerintah dalam membuka kebenaran kasus Munir.

Ia membawa tumpukan kertas yang menganalogikan berkas Tim Pencari Fakta (TPF) Munir.

Tumpukan berkas itu diikat oleh tali rafia yang sulit untuk dibuka. Hal ini berhubungan dengan desakan aktivis yang dilemahkan oleh pemerintah saat meminta membeberkan fakta-fakta yang ada.

"Tahun 2017 lalu, keluarga Munir, Suciwati dan lembaga kemanusiaan lainnya mendesak dan melakukan gugatan agar Komisi Informasi Pusat membuka berkas TPF Munir. Namun, ternyata jawabannya ditolak," kata dia lagi.

Dia berharap, komitmen pemerintah yang akan menuntaskan segala bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) segera direalisasikan bukan sebatas janji semata.

Menurutnya, terungkap kematian Munir akan membongkar kasus-kasus lainnya. Terlebih, saat itu Munir tengah menangani kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

"Nah, ini kuncinya bagaimana berkas ini dibuka dan masyarakat Indonesia dan para advokat mengetahui berkas TPF Munir," katanya pula.

Baca juga: Rekaman suara pijakan awal lanjutkan kasus Munir

Baca juga: 10 Tahun Kamisan, mengenang korban pelanggaran HAM

Baca juga: "Postcard from Heaven" kartu pos Munir untuk Presiden Jokowi

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar