counter

BNPB ungkap 4,87 juta jiwa terdampak kekeringan

BNPB ungkap 4,87 juta jiwa terdampak kekeringan

Petani memompa air di telaga yang mulai mengering di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (13/8/2018). Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar, sedikitnya 12.572 hektar lahan pertanian di 19 kabupaten terdampak kekeringan. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/kye/18.

Sebagian masyarakat terpaksa harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 4,87 juta jiwa terdampak kekeringan akibat musim kemarau pada 2018.

"Sebagian masyarakat terpaksa harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sutopo di Jakarta, Jumat.
 
Sutopo mengatakan masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih harus mencari sumber-sumber air di tempat lain. Selain membeli, sebagian masyarakat juga bergantung pada bantuan pasokan air bersih.

Kekeringan juga berdampak pada lahan pertanian. Sebagian Petani harus mengeluarkan biaya tambahan Rp800 ribu untuk sewa pompa air dan membeli solar untuk mengairi sawahnya.

Baca juga: Kemarau lebih panjang, risiko kekeringan-kebakaran meningkat

"Sebagian petani melalukan modifikasi pompa air dengan mengganti bahan bakar solar dengan gas elpiji tiga kilogram sehingga dapat menghemat biaya Rp100 ribu hingga Rp150 ribu," jelasnya.

Sutopo mengatakan kekeringan terjadi di beberapa tempat di wilayah Indonesia khususnya Jawa dan Nusa Tenggara. Kekeringan terjadi di 4.053 desa dari 888 kecamatan di 111 kabupaten/kota dari 11 provinsi di Indonesia.

"Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2018 dengan puncaknya selama Agustus-September. Yang mengalami kekeringan saat ini adalah daerah-daerah yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan," kata Sutopo.

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar