Perundingan Yaman di Jenewa berakhir nihil

Perundingan Yaman di Jenewa berakhir nihil

Pengungsi dari kota pelabuhan Laut Merah Hodeidah duduk di rumah keluarga penduduk dimana mereka tinggal di pinggiran Sanaa, Yaman, Selasa (10/7/2018). Foto diambil tanggal 10 Juli 2018. (REUTERS/Khaled Abdullah)

Jika mereka memang berniat baik untuk berdamai, mereka seharusnya datang

Jenewa (ANTARA News) - Upaya perundingan damai bagi Yaman kembali gagal karena delegasi dari milisi bersenjata Houthi tidak menghadiri undangan PBB di Jenewa pada Sabtu.

PBB tengah berupaya mempertemukan dua kubu yang saling berseteru di Yaman saat ini; Houthi yang punya hubungan dekat dengan Iran dan kubu pemerintah yang mendapat dukungan militer dari Arab Saudi serta Uni Emirat Arab.

Meski Houthi tidak memenuhi undangan berunding bahkan setelah ditunggu selama tiga hari, Utusan Khusus PBB Martin Griffiths mengatakan bahwa proses perdamaian belum berakhir.

Griffiths mengaku akan menemui pemimpin Houthi di Sanaa dan Mucat dalam beberapa hari mendatang.

"Mereka sebenarnya ingin hadir di sini, tapi kami tidak mampu menciptakan situasi yang tepat agar mereka bisa datang," kata Griffiths dalam sebuah konferensi pers, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sebelumnya pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menuding koalisi Saudi telah menghalangi delegasi mereka terbang ke Jenewa untuk menghadiri perundingan.

"Kita semua tahu bahwa perundingan ini gagal karena delegasi kami dihalangi oleh pasukan koalisi untuk terbang menuju Jenewa," kata dia dalam pidato yang disiarkan oleh al-Masirah TV.

Koalisi militer pimpinan Saudi mengintervensi perang saudara di Yaman sejak tahun 2015 untuk membanti pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi kembali berkuasa sekaligus menghancurkan kelompok Houthi.

Akibat perang, situasi humanitarian di Yaman semakin memburuk dan membuat 8,4 juta orang terancam kelaparan.

Kelompok Houthi mengaku menutut jaminan dari PBB bahwa pesawat yang mereka gunakan -- yang disediakan oleh Oman -- tidak akan dihentikan di Djibouti oleh koalisi Saudi untuk keperluan pemeriksaan.

Pesawat serupa sempat ditahan di Djibouti selama beberapa bulan oleh koalisi Saudi.

Selain itu Houthi juga izin agar pesawat tersebut bisa digunakan untuk mengevakuasi sejumlah korban luka ke Oman dan Eropa.

Sementara itu di sisi lain, Menteri Luar Negeri Yaman Khaled al-Yamani, yang memimpin delegasi pemerintah ke Jenewa, menuding Houthi telah "tidak bertanggung jawab" dan "berupaya mensabotase negosiasi."

"Jika mereka memang berniat baik untuk berdamai, mereka seharusnya datang," kata dia dalam konferensi terpisah.

Sang menteri juga mengkritik Griffits karena dianggap kurang tegas.

"Kami ingin PBB untuk lebih tegas dalam mendatangkan semua pihak ke meja perundingan," kata dia.

Pewarta: GM Nur Lintang Muhammad
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar