Furnitur jati Indonesia sangat diminati di Senegal

Furnitur jati Indonesia sangat diminati di Senegal

Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan mebel berbahan kayu jati di sebuah industri furnitur di Demak, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Menurut Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) pertumbuhan ekspor industri mebel pada tahun ini baru mencapai empat persen dan masih jauh dari target sebesar 12 persen atau senilai US$5 miliar pada 2019 karena terkendala beberapa regulasi, diantaranya masih tingginya bunga pinjaman bank sekitar 11,5 persen. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Jakarta (ANTARA News) - Furnitur kayu jati buatan Indonesia ternyata sangat diminati dan laku keras di Senegal, seiring pertumbuhan pembangunan perumahan di negara itu.

Dalam keterangan tertulis KBRI di Dakar, yang diterima Antara, Selasa, seorang pengusaha dan pengrajin kayu Senegal, Ousseynou Keita mampu menjual lebih dari 350 pintu jati dari Jepara.

Hal itu dikemukakan pada pertemuannya dengan Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran, saat dubes ke Thies, dalam rangka mempromosikan produk unggulan Indonesia dan Trade Expo Indonesia (TEI) 2018

Pada pertemuan 9 September 2018 itu, Keita mengatakan produk kayu jati Indonesia khususnya pintu, meja, dan kursi makan, diminati konsumen Senegal.

Selain itu, masih terdapat permintaan lebih dari 1.000 pintu jati yang harus dipenuhi.

Keita menyampaikan bahwa permintaan produk jati tersebut sangat tinggi seiring dengan pesatnya pembangunan perumahan dan apartemen di berbagai kota besar di Senegal.

Ia juga mengatakan pengusaha Indonesia berpeluang besar menyuplai berbagai produk alumunium yang banyak dicari para kontraktor Senegal untuk pembangunan perumahan tersebut.

Sejak tiga tahun yang lalu, Keita telah membeli berbagai produk kayu jati di Jepara dan terus mencari peluang bisnis lainnya khususnya produk alumunium.

Untuk itu, ia meminta bantuan Dubes RI untuk menghubungkan dengan beberapa perusahaan potensial di Indonesia untuk produk kayu dan alumunium tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Dubes Mansyur yang didampingi oleh Fungsi Ekonomi Rahmat Azhari, menghubungi beberapa pengusaha kayu Indonesia dan menawarkan kerja sama serta memberikan kontaknya kepada Keita untuk dapat ditindaklanjuti.

Dubes Mansyur menegaskan bahwa peluang bisnis di Indonesia sangat besar sekali dan terbuka bagi para pengusaha Senegal dan para pengusaha Afrika Barat lainnya.

Berbagai produk unggulan dan produk industri strategis Indonesia dapat ditemui pada TEI 2018 yang akan datang.

Dubes Mansyur meyakinkan Keita akan menindaklanjuti peluang kerjasama lainnya dan mengundang Keita untuk datang ke Indonesia pada saat TEI 2018, bulan Oktober mendatang.

Kepada Dubes Mansyur, Keita menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia dan akan hadir pada TEI 2018 di Jakarta, serta akan menemui partnernya di Jepara yang selama ini menjadi mitranya.  

Baca juga: Produk furnitur Indonesia diminati pasar Dubai
Baca juga: Furnitur akar kayu dari Jawa laris di Inggris

Pewarta:
Editor: Apep Suhendar
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar