Satelit deteksi 150 titik panas di Sumatera

Satelit deteksi 150 titik panas di Sumatera

Arsip Foto. Sejumlah kapal melintasi Sungai Musi yang berselimut kabut asap tipis di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (25/7/2018). (ANTARA /Nova Wahyudi)

Pekanbaru, Riau (ANTARA News) - Satelit pada Rabu sore mendeteksi 150 titik panas indikasi awal kebakaran lahan dan hutan tersebar di Pulau Sumatera.

Menurut informasi yang dihimpun Antara dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Pekanbaru, titik panas terdeteksi di delapan provinsi, yang terbanyak di Provinsi Sumatera Selatan dengan 77 titik panas.

Selain itu ada 14 titik panas di Provinsi Bangka Belitung, 10 titik panas di Bengkulu, delapan titik panas di Riau, empat titik panas di Sumatera Barat, tiga titik panas di Jambi, dan satu titik panas di Kepulauan Riau.

Delapan titik panas di Riau tersebar di lima daerah, yakni Kabupaten Indragiri Hulu (tiga), Rokan Hilir (dua), dan masing-masing satu titik di Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Pelalawan.

Dari titik-titik panas tersebut, ada dua titik api yang kemungkinan besar menimbulkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Indragiri Hulu dan Pelalawan.

BMKG juga mengeluarkan peringatan kepada Pemerintah Provinsi Riau mengenai dua daerah yang sangat rawan kebakaran hutan dan lahan selama hari tanpa hujan cukup panjang.

Daerah yang lebih dari 10 hari berturut-turut tidak hujan antara lain Kecamatan Rantau Kopar di Kabupaten Rokan Hilir (13 hari), dan Kecamatan Ukui di Kabupaten Pelalawan (24 hari) menurut Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru, Ardhitama, kepada Antara di Pekanbaru.

BMKG Pekanbaru memiliki 150 pos yang tersebar di Provinsi Riau untuk memonitor cuaca, salah satunya memantau hari tanpa hujan (HTH) di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Pos-pos itu akan menyampaikan informasi awal kepada pemerintah daerah untuk mencegah kebakaran di lahan gambut, yang apabila terbakar akan sulit dipadamkan kecuali turun hujan.

"Informasi ini sebagai monitoring agar semua pihak waspada masih ada potensi kebakaran di lahan gambut," kata Ardhitama.

Ia menjelaskan secara umum Provinsi Riau sebenarnya sudah mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan sejak bulan Agustus dan akan berakhir sekitar Oktober 2018. Namun kondisi di setiap daerah berbeda-beda sehingga masih terjadi HTH cukup lama di dua daerah di bagian Utara dan Selatan Riau tersebut.

"Ini lebih ke kondisi lokal. Di Rokan Hilir ada bagian yang sudah hujan, tapi ada juga yang belum hujan karena ini masih dalam kondisi peralihan. Jadi berbeda kecamatan saja akan berbeda kondisi hujannya," kata Ardhitama.

Baca juga:
BMKG: titik panas meningkat saat kemarau memanjang
Kebakaran lahan baru bermunculan di Pekanbaru

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar