Presiden ICW: perempuan bisa mengubah masyarakat

Presiden ICW: perempuan bisa mengubah masyarakat

Presiden International Council of Women (ICW) Jung Sook Kim (kiri) dan GM Angkasa Pura I Bandara Adisucipto Agus Pandu Purnama (kanan) saat kedatangannya di Bandara Adisucipto, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (10/9). untuk menghadiri sidang umum ke-35 International Council of Women. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama/18.

 Yogyakarta (ANTARA News) - Presiden International Council of Women (ICW) Kim Jung Sook menyatakan keyakinannya bahwa perempuan bisa mengubah masyarakat bahkan dunia, diawali dengan meningkatkan pemberdayaan terhadap perempuan di segala bidang.

 "Saya percaya perempuan bisa mengubah dunia jika mereka bersama-sama menyatukan usaha. Mengubah dunia dan masyarakat dimulai dengan mengubah perempuan melalui pemberdayaan," kata Kim pada Sidang Umum ke-35 ICW dan Temu Nasional 1.000 Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, dalam tiga tahun terakhir, ICW bekerja keras untuk mengimplementasikan tema besar yang ditetapkan dalam Sidang Umum ke-34 ICW yang berlangsung di Turki yaitu mengubah masyarakat melalui pemberdayaan perempuan.

 Ia menyebutkan, kemampuan perempuan untuk mengubah dunia sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat dasar yang dimiliki kaum perempuan yaitu penyayang namun juga memiliki jiwa kepempimpinan yang kuat.

 "Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan hal ini. Pemberdayaan terhadap perempuan bisa diawali dalam bidang sosial, budaya, dan juga pendidikan," katanya.

 Perempuan, lanjut dia, juga menginginkan persamaan dalam segi jumlah dan kekuatan dalam segala bidang termasuk di bidang ekonomi hingga politik.

 "Saat ini, baru ada 17 negara yang dipimpin oleh perempuan dan baru sedikit perempuan yang bisa menduduki jabatan penting di perusahaan dan industri besar," katanya.

Ia menyebutkan, di Timur Tengah jumlah perempuan yang menduduki jabatan strategis di industri dan perusahaan besar sekitar 3,9 persen, Amerika Latin sekitar 6,4 persen, Asia Pasifik sekitar sembilan persen, dan jumlah cukup besar terlihat di Eropa sekitar 20 persen dan Amerika Serikat sekitar 19 persen.

 "Di negara saya sendiri, Korea, jumlah perempuan di jabatan strategis di perusahaan dan industri baru sekitar dua persen. Sangat kontras dengan kondisi di negara lain," katanya.

 Selain berperan di industri besar, perempuan juga memiliki peran dalam meningkatkan pendapatan domestik bruto keluarga. "Pendapatan sebuah keluarga akan meningkat jika perempuan juga ikut berpartisipasi," katanya.

 Namun demikian, lanjut dia, sejumlah masalah juga masih dihadapi oleh perempuan, di antaranya kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga perdagangan perempuan. Masalah ini jamak ditemukan di berbagai negara," katanya.

Oleh karena itu, Kim berharap Sidang Umum ke-35 ICW juga membahas endala dan strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

 Sementara itu, Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan, akan ada 1.000 organisasi perempuan yang bertemu untuk membahas pemberdayaan perempuan.

 "Kami merasa sangat bangga karena berkumpulnya 1.000 pimpinan organisasi perempuan baru bisa terwujud untuk pertama kali," katanya.

 Ia pun mengutip pernyataan Kofi Annan tentang pentingnya peran perempuan, yaitu "if you educate a man, you educate a person. But if you educate a woman, you educate a nation".

(E013).

 

Pewarta:
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar