Harrison Ford: Paris Agreement tergantung Hutan Sumatera

Harrison Ford: Paris Agreement tergantung Hutan Sumatera

Wakil Ketua Conservation International (CI) Harrison Ford menyampaikan pandangannya tentang dukungan terhadap peneliti iklim dan masyarakat adat untuk menekan emisi dan pengendalian perubahan iklim di Global Climate Action Summit (GCAS) 2018 di San Francisco, Amerika Serikat, Kamis (13/9/2018). Pada kesempatan yang sama aktor Hollywood itu juga menyerukan penduduk dunia menjaga hutan, gambut dan mangrove karena Paris Agreement tidak akan tercapai jika hutan di Sumatera dan Brasil masih terbakar. (ANTARA FOTO/ Virna P Setyorini/aww/2018).

Jika ingin selamat di bumi kita sendiri, kita butuh alam lebih dari sebelumnya. Alam tidak butuh manusia, tapi manusia butuh alam. Jadi mari jaga hutan dan alam kita
San Francisco,  (ANTARA News) - Wakil Kepala Conservation International (CI), Harrison Ford dalam Global Climate Action Summit (GCAS) di San Francisco, Amerika Serikat, Kamis, mengatakan tercapai atau tidaknya target Paris Agreement salah satunya tergantung dari nasib hutan-hutan di Sumatera.

"Selama hutan di Sumatera dan Brasil masih terbakar maka target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sesuai Paris Agreement sulit tercapai," kata Ford.

Aktor Hollywood pemeran Indiana Jones ini mengatakan, jika masyarakat global tidak menghentikan kerusakan hutan, tidak ada lagi yang penting di dunia ini. Karena melindungi dan merestorasi hutan dapat menjadi carbon sink, yang artinya mewakili 30 persen dari apa yang harus dilakukan untuk menghindari katastropik.

Saat ini, ia mengatakan satu-satunya solusi yang memungkinkan untuk menyerap karbon dengan skala global tidak lain yang perlu dilakukan adalah melindungi hutan.

"Jika kita tidak bisa melindungi hutan, kita tidak bisa melindungi diri kita sendiri," ujar Ford.

Lebih lanjut, ia mengatakan perlu memperhitungkan menjaga hutan di setiap level kebijakan pemerintahan yang dibuat untuk mencapai target pengendalian perubahan iklim.

Investasi merawat mangrove, hutan tropis, bersamaan dengan mengembangkan energi baru terbarukan, berhenti merusak ekosistem, berkomitmen mengamankannya ekosistem untuk masa depan, melakukan riset dan reforestasi seperti mengejar riset untuk penyimpanan dan penangkapan karbon.

"Memberdayakan komunitas adat, gunakan pengetahuan mereka, menjaga warisan budaya dan lahan mereka, hormati dan pastikan hak mereka," lanjutnya.

Yang terjadi saat ini nelayan di Kolombia sama-sama menderita dengan nelayan di Somalia karena perubahan iklim. Sementara masyarakat Amerika Serikat di pesisir timur menderita karena badai, sedangkan yang ada di barat California menderita karena kebakaran hutan.

"Jika ingin selamat di bumi kita sendiri, kita butuh alam lebih dari sebelumnya. Alam tidak butuh manusia, tapi manusia butuh alam. Jadi mari jaga hutan dan alam kita," kata Ford.

Ford menjadi pembicara terakhir dalam sesi Opening Plenary: A Brighter Future di GCAS hari pertama setelah Utusan Khusus Sekjen PBB dari Amerika Serikat untuk Perubahan Iklim Michael R Bloomberg.*

Baca juga: Laporan dari San Francisco - Al Gore bahas Siklon Florence dan Mangkhut

Baca juga: Studi: hilangnya salju di Swiss mungkin berkaitan dengan pemanasan global


 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar