Artikel

Nafas Desa Wonoayu dari birahi sapi

Nafas Desa Wonoayu dari birahi sapi

Dokumentasi - Peternak sapi membawa hasil peranakan sapi indukan inseminasi buatan (IB) saat digelar oleh Kelompok Tani Ternak Subur di Kedungdowo, Andong, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (20/3/2018). (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Kami surplus daging sapi sebanyak 25 ton per tahun.
Matahari pagi itu di Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terasa hangat saat Danang Rizki Pratama membantu ayahnya, Mahmud, menggiring dua ekor sapi menyusuri jalanan desa menuju ke sebuah lapangan yang berjarak sekitar 500 meter dari balai desa.

Di lapangan itu sudah banyak sapi yang ditambatkan pada kayu-kayu yang telah ditata bersaf. Semuanya adalah sapi betina milik warga desa setempat. Hari itu, 29 Agustus 2018, adalah jadwal pemeriksaan kesehatan dalam program upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab).

Danang mencarikan tempat untuk dua ekor sapi milik sang ayah. Dia menuju ke sebuah saf di pinggir lapangan yang masih kosong dan kemudian menambatkan dua ekor sapinya di sela sapi-sapi milik para tetangganya.

"Ini sapi lokal, jenisnya peranakan ongole," kata pemuda berusia 20 tahun itu menjelaskan, saat dikonfirmasi terkait dua ekor sapi betina berwarna coklat yang tampak sehat dan berukuran besar-besar.

Dia mengaku selama ini ikut merawat dua ekor sapi milik ayahnya untuk menopang perekonomian keluarga.

Mengenakan kaos abu-abu dan bercelana jeans, Danang terlihat paling muda di antara puluhan peternak tradisional atau pemilik sapi lainnya yang hadir di lapangan itu. Dia baru lulus dua tahun yang lalu dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Bangsa yang berlokasi di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, atau berjarak sekitar 15 kilometer dari desanya.

Setelah lulus dari SMK, Danang sempat mencoba peruntungan lain dengan merantau ke luar pulau. "Saya bekerja di sebuah hotel di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bibi saya yang ngajak. Tapi gak kuat, sempat sakit, akhirnya kembali pulang," katanya.

Pemuda berparas tampan itu kini telah meneguhkan pendiriannya untuk menetap di desa kelahirannya, membantu sang ayah merawat sapi-sapinya sekaligus menggarap sawah.

Mahmud mengemukakan memelihara sapi sudah menjadi kegemaran masyarakat Desa Wonoayu selama turun temurun.

"Sama dengan saya dulu, Danang telah membantu merawat sapi sejak duduk di bangku sekolah dasar," katanya.

Dia mengenang dirinya dulu sejak duduk di bangku sekolah dasar membantu merawat tiga ekor sapi milik ayahnya. Lelaki berperawakan kekar itu lantas diberi seekor sapi oleh sang ayah agar dirawat secara mandiri setelah menikahi Puji Rahayu, yang kini memberinya dua orang anak.

Anaknya yang kedua perempuan, Endang Safitri, usianya 16 tahun, masih sekolah di SMK Bina Bangsa di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

"Ya, nanti kalau anak-anak saya masing-masing sudah menikah, akan saya beri seekor sapi betina agar dirawat secara mandiri untuk menopang perekonomian keluarganya," ucap Mahmud, yang wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usianya yang kini telah menginjak 55 tahun.



Tulang Punggung Keluarga

Istri Mahmud, Puji Rahayu, di tengah keluarganya, selama ini lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga, selain juga memanfaatkan keahlian membuat kue untuk ditawarkan kepada tetangganya yang punya hajat pernikahan dan khitanan.

Praktis penghasilan yang diraih dari usaha istrinya hanya dirasakan pada bulan-bulan tertentu saat musim pernikahan dan khitanan.

Sebagaimana masyarakat di desa-desa lainnya di wilayah Kabupaten Malang, setiap peternak sapi tradisional selalu memiliki ladang atau sawah sebagai penghasilan utamanya. Mahmud pun juga memiliki sebidang lahan sawah yang tidak terlalu luas warisan dari orang tuanya.

Namun dia merasa kondisi tanah di desanya, meski terletak di bawah kaki Gunung Semeru, dengan suhu yang cukup sejuk, antara 22 - 27 derajat celcius, tergolong gersang.

"Tanah gersang begini cuma bisa ditanami sayur-sayuran," katanya.

Mahmud menyebut penghasilan utama bagi banyak keluarga di Desa Wonoayu justru berasal dari hewan peliharaan berupa sapi betina.

Sapi-sapi betina itu dirangsang birahinya agar setiap tahun bunting. Terlebih pemerintah telah menggalakkan Program Upsus Siwab, yaitu dengan inseminasi buatan melalui kawin suntik semen beku secara gratis bagi seluruh sapi betina milik warga atau peternak tradisional yang sedang berahi.

Maka warga Desa Wonoayu yang mayoritas memelihara sapi betina banyak diuntungkan dengan Program Upsus Siwab.

"Ini sudah dua tahun inseminasi buatan melalui kawin suntik digratiskan oleh pemerintah. Sebelumnya bayar, gak mahal kok, kalau gak salah Rp8 ribu sekali suntik," ucap Mahmud.

Pak Mantrinya, atau petugas kawin suntik dari Dinas Peternakan setempat, lanjut dia, juga tidak susah dipanggil ke rumah peternak. Peternak pun bebas memilih bibit sapi yang diinginkan dalam program kawin suntik gratis ini, bisa limousin, brahman, simental atau ongola.

"Kami diajari mengenali sapi betina yang sedang berahi. Kalau sudah berahi, disuruh cepat memanggil petugas dari Dinas Peternakan untuk segera dikawinkan suntik. Karena kalau sapi betina sudah berahi, setiap kali disuntik kebanyakan berhasil bunting," katanya.

Mahmud mencontohkan pada dua sapi betina miliknya sendiri yang masing-masing telah berusia lima tahun. "Itu keduanya setiap tahun selalu `manak`," katanya.

Pedet, atau anak sapi yang dihasilkan, selalu laku terjual mahal karena kualitasnya tergolong unggulan dari hasil kawin suntik.

"Belum lama ini, pedet saya, usia 4 bulan, anaknya sapi yang ini, laku terjual Rp13 juta," ujarnya, mencontohkan, sembari menunjuk pada sapi indukannya.

Dari sapi-sapi anakan yang setiap tahun dilahirkan, Mahmud selalu menyisakan dua hingga tiga ekor yang betina untuk dipelihara. Karena dari sapi-sapi betina peliharaannya itulah dia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, menyekolahkan dua orang anaknya sampai tingkat SMK, dan bahkan membangun rumah yang layak huni.

"Sekarang Danang juga saya sekolahkan lagi di sebuah universitas di Malang. Dia ambil jurusan Teknik Mesin," ucapnya



Kesehatan Terjamin

Tepat pukul 09.00 WIB pagi, pada 29 Agustus lalu, kegiatan Program Upsus Siwab di Desa Wonoayu dimulai. Puluhan petugas dari Dinas Peternakan, masing-masing memeriksa kesehatan seekor sapi yang ditambatkan bersaf-saf di lapangan itu.

Mengenakan sarung tangan sepanjang lengan, mereka merogoh alat reproduksi pada masing-masing sapi betina tersebut untuk memeriksa apakah sudah bunting atau belum.

"Seluruh sapi ini sebelumnya sudah dikawinkan suntik di rumah peternak masing-masing. Hari ini kami periksa kebuntingannya," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Jawa Timur drh Iswahyudi, yang pada hari itu memimpin kegiatan Program Upsus Siwab di lapangan Desa Wonoayu.

Dalam kegiatan ini, sapi-sapi milik warga itu sekaligus diperiksa kesehatannya. Seluruh sapi disuntik vitamin agar kebal dari berbagai jenis penyakit. Tujuannya untuk mencegah penyakit hewan yang bisa mewabah ke seluruh desa.

"Sapi-sapi yang sudah diinseminasi yang pada pemeriksaan hari ini belum bunting, kami periksa juga kesehatannya. Kami cari tahu kenapa belum bunting. Kalau kawin suntik yang sebelumnya telah dilakukan diketahui gagal, hari ini kami lakukan kawin suntik lagi," katanya.

Iswahyudi memastikan seluruh biaya pemeriksaan dalam Program Upsus Siwab ini semuanya ditanggung pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

"Program ini dijalankan di semua desa seluruh wilayah Indonesia setiap setahun sekali dalam rangka Indonesia menuju swasembada pangan daging," ucapnya.



Desa Penghasil Sapi

Kepala Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Wina Nurnama, mengungkapkan warga desanya sangat diuntungkan dari program pemerintah Upsus Siwab.

Dia mengenang desa yang dipimpinnya ini dulu, hingga awal tahun 1990-an, masih digolongkan dalam kategori kawasan tertinggal.

Desa yang berlokasi sekitar 37 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Malang itu baru memiliki infrastruktur jalan yang memadai sejak tahun 2001.

Sedangkan untuk infrastruktur sekolah, sampai sekarang di desanya hanya tersedia untuk anak-anak tingkat sekolah dasar.

"Kalau lulus sekolah dasar, anak-anak ini harus melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama di desa lain. Untuk melanjutkan ke tingkat sekolah menengah lanjutan atas sementara ini harus ke kecamatan lain," katanya.

Seiring dengan dibangunnya infrastruktur jalan yang kini telah menghubungkan dengan desa lain, lanjut dia, perekonomian masyarakat Wonoayu perlahan terdongkrak.

"Sekarang kebiasaan masyarakat di sini yang memelihara sapi betina semakin terbantu dengan Program Upsus Siwab. Sejak dulu mayoritas masyarakat di sini memang gemar memelihara sapi betina dan itu adalah pabriknya sapi potong," ucapnya.

Wina mencatat populasi sapi di desa kecil seluas 254,6 hektare, dengan jumlah penduduk 1.550 jiwa, yang terbagi menjadi 352 kepala keluarga itu, saat ini terdata sebanyak 833 ekor. "Itu artinya hampir semua kepala keluarga di Desa Wonoayu memelihara sapi minimal dua hingga tiga ekor," katanya.

Dia memastikan dari 833 populasi sapi di Wonoayu, terbanyak adalah sapi betina, yaitu 686 ekor, yang setiap tahun terus dirangsang berahinya, untuk kemudian diinseminasi agar melahirkan banyak sapi lainnya.



Tak Perlu Impor Daging

Bupati Malang Rendra Kresna menyebut wilayahnya yang berpenduduk 2.576.596 jiwa, mayoritas adalah peternak tradisional yang memasok daging sapi terbesar di Indonesia. "Kami surplus daging sapi sebanyak 25 ton per tahun," katanya.

Dia mencatat sedikitnya 60 ribu pedet atau anak sapi lahir dari para peternak di Kabupaten Malang pertahun. "Penyumbang terbanyak tak lain berasal dari para peternak tradisional di Desa Wonoayu ini," katanya.

Pemerintah Kabupaten Malang menghitung peredaran uang di kalangan peternak dari hasil menjual sapi anakan mencapai Rp500 miliar per tahun. Sedangkan secara keseluruhan, dari hasil ternak sapi potong, Kabupaten Malang memberi sumbangsih terhadap Produk Domestik Regional Bruto senilai Rp2,3 triliun.

"Yang terus kami lakukan adalah pendampingan agar mereka terus dan senang beternak. Terutama kami minta dukungan dari pemerintah pusat, terlebih pada pemerintah provinsi, agar bagaimana harga daging itu jangan sampai turun. Kalau itu nanti terjadi, bisa saja mereka berpindah haluan ke usaha yang lain," ucapnya.

Dalam kesempatan lain, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menegaskan tidak perlu impor daging karena peternakan sapi di wilayahnya hingga kini terbilang berlimpah.

Dia mendata populasi sapi di Jawa Timur berjumlah 4,5 juta ekor, dengan jumlah betina 1.250.000 ekor yang setiap tahun dilakukan inseminasi buatan agar terus melahirkan.

"Kebutuhan daging di Jawa Timur 450 ribu ton pertahun dan masih kelebihan 22 ribu ton yang setiap tahun kami bagikan ke daerah-daerah di provinsi lain yang membutuhkan," ucapnya.

Matahari terlihat semakin tinggi di Desa Wonoayu. Teriknya semakin terasa panas. Danang melangkah beriringan dengan ayahnya meninggalkan lapangan di desa itu. Puluhan peternak lainnya menyusul di belakangnya.

Masing-masing menggiring sapinya pulang ke rumah masing-masing. Senyum mereka mengembang setelah petugas Upsus Siwab menyatakan puluhan sapi betina itu tak lama lagi pasti bunting.*

Baca juga: Bupati Malang paham kapan sapi birahi

Baca juga: Ini bukti jualan susu sapi murni menjanjikan



 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar