40 persen orang tua di Tolikara menolak vaksin MRP

40 persen orang tua di Tolikara menolak vaksin MRP

Petugas kesehatan menyiapkan suntikan vaksin di SD Inpres 113 Kota Sorong, Papua Barat, Rabu (29/8/2018). Sempat ditolak sejumlah pihak, Imunisasi MR di Papua Barat mencapai peringkat pertama dari 28 Provinsi untuk cakupan kumulatif Imunisasi MR sebesar 70,22 persen dan diharapkan terus meningkat pada bulan September 2018. (ANTARA FOTO/Olha Mulalinda)

Jayapura (ANTARA News) - Sebagian orang tua di Karubaga, ibu Kota Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, menolak pemberian vaksin measles-rubella dan polio (MRP) kepada anaknya di sekolah.

"Kendala yang kami di Karubaga selama turun lapangan dan melakukan imunisasi, kami bisa menyebut sekitar 40 persen orang tua dari anak-anak itu menolak untuk divaksin," kata Herdika Pareang dari Puskesmas Karubaga ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Minggu.

Menurut dia, banyak anak murid yang tidak bersedia untuk diimunisasi. "Ketika kami tanya, mereka mengatakan kalau orang tuanya tidak memberikan izin untuk disuntik karena takut akibat fatal seperti cacat atau sakit lainnya," kata dia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas kesehatan Tolikara, Constan Jikwa ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dengan baik.

Namun beberapa waktu lalu, ketika terjadi insiden pemberian vaksin yang dilakukan pada anak epilepsi di Distrik Kurulu, Jayawijaya, mengakibatkan anak itu cacat dan didengar oleh mereka sehingga ada penolakan dari para guru dan orang tua.

"Kami sudah melakukan sosialisasi dan sedang terus melakukan kampanye sosialissai dari ?distrik ke distrik dan terutama di dalam Karubaga. Tetapi pemahaman orang tua dan guru ini melihat kejadian yang lalu tentang pemberian vaksin terhadap anak yang epilepsi di Kurulu membuat banyak yang menolak," kata Konstan.

Wakil Kepala Sekolah SD YPPGI Karubaga, Kristian Adi ketika dikonfirmasi mengatakan jumlah anak yang menerima vaksin MRP di sekolahnya telah mencapai sekitar 60 persen.

Ia mengaku pihak sekolah telah memberikan sosialisasi namun banyak juga dari anak anak murid yang menolak untuk disuntik vaksin karena dilarang oleh orang tua mereka.

"Kami dari sekolah beberapa hari sebelum petugas kesehatan dari Puskesmas datang, kami sudah memberikan informasi dan pengarahan kepada murid kami, namun semestinya sosialisasi ini harus lebih aktif dari dinas terkait sehingga ada pemahaman yang baik dari orang tua," katanya.

Untuk murid di SD YPGI bisa dikatakan 60 persen sudah terima imunisasi itu. Mereka sangat antusias. "Apalagi ini program yang bagus," kata dia.

Baca juga: Campak-rubella serang 200 anak di Kepulauan Riau
Baca juga: 100 anak Riau cacat akibat sindrom rubella
Baca juga: Kemenkes koordinasikan kelanjutan imunisasi MR dengan seluruh daerah

Pewarta:
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar