counter

Ritual "Maarak Jari-Jari" maknai pengumpulan jasad cucu nabi

Ritual "Maarak Jari-Jari" maknai pengumpulan jasad cucu nabi

Sejumlah warga Nagari Pasa mengelilingi "daraga" saat prosesi "Maatam" di Rumah Tabuik Pasa, Pariaman, Sumatera Barat, Senin (17/9/2018). "Maatam" merupakan prosesi ketiga dari rangkaian Pesona Budaya Hoyak Tabuik 2018 yang diselenggarakan sebagai bentuk pengekspresian kesedihan karena wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/kye

Pariaman, Sumbar (ANTARA News) - Prosesi atau ritual "Maarak Jari-Jari" dalam rangkaian Pesta Budaya Tabuik yang dihelat oleh Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat, memiliki makna sebagai pengumpulan jasad Imam Husein cucu Nabi Muhammad SAW.

"Ritual tersebut sebagai pengumpamaan jasad cucu Nabi Muhammad SAW yang dibunuh secara keji oleh pasukan tentara Raja Yazid Bin Muawiyah pada perang Karbala," kata Tuo (Tokoh) Tabuik Nagari Subarang Nasrun Jon di Pariaman, Selasa.
Pada prosesi maarak jari-jari tersebut para anak tabuik Pasa maupun Subarang membuat semacam duplikat jari-jari manusia yang ditempatkan dalam sebuah "Panja" atau wajan.

Kemudian duplikat jari-jari tersebut diarak di sekitar kawasan kota itu untuk melanjutkan prosesi "Maradai" atau meminta sumbangan kepada masyarakat.

Ritual maradai tersebut juga memiliki makna bahwa kegiatan pesta budaya tabuik perlu melibatkan masyarakat luas untuk memberikan sumbangan.

"Jadi dalam ritual maradai tersebut anak tabuik sama-sama meminta sumbangan karena biaya kegiatan itu cukup besar," katanya.

Setelah melaksanakan ritual maarak jari-jari, kedua kubu tabuik melanjutkan prosesi "Basalisiah" atau pertemuan kedua belah pihak di Simpang Tabuik Kecamatan Pariaman Tengah.

Saat basalisiah tersebut biasanya kedua kubu saling menyerang dan melemparkan gendang tasa sehingga terjadi bentrokan. Namun setelah kejadian masyarakat tidak ada menyimpan dendam, ujarnya.

"Basalisiah ini sudah menjadi tradisi sejak dulu, memang ada bentrokan namun masyarakat tidak pernah menyimpan dendam karena pesta budaya tabuik hanya agenda pariwisata bukan kriminal," kata dia.

Namun pihaknya juga mendukung agar tradisi basalisiah diganti dengan kesenian tari gelombang untuk menghindari bentrokan yang anarkis.

Sementara itu Wakil Wali Kota Pariaman Genius Umar mengatakan pesta budaya tabuik merupakan salah satu tulang punggung pariwisata daerah setempat.

"Tabuik setiap tahunnya mampu menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah, bahkan wisatawan asing. Hal ini cukup berdampak pada perekonomian masyarakat," katanya.

Terpisah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Elfis Candra mengatakan pesta budaya tabuik merupakan perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, yang dilakukan oleh masyarakat di Kota Pariaman.

Pesta Budaya Tabuik tersebut juga menampilkan kembali pertempuran Karbala, dan memainkan gendang tassa. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan juga untuk menarik para wisatawan dari berbagai daerah ke Kota Pariaman.

Baca juga: Sumbar upayakan pesta tabuik masuk "Wonderful Indonesia"

Baca juga: Seni tari Sulawesi "Sipakainga" dipentaskan di GIK


Baca juga: Pendekatan budaya sebagai penuntun kehidupan berbangsa

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar