Facebook perluas kemitraan program "fact-checking" di Indonesia

Facebook perluas kemitraan program "fact-checking" di Indonesia

Logo Facebook di kantor Facebook Indonesia, di Jakarta. (ANTARA News/Arindra Meodia)

Jakarta (ANTARA News) - Facebook mengumumkan perluasan kemitraan program pemeriksa fakta pihak ketiga (third-party fact-checking) di Indonesia dengan Liputan6.com, Tempo, dan Mafindo.

Ketiga mitra tersebut telah mendapatkan sertifikasi dari jaringan Internasional Pemeriksa Fakta yang independen dan akan meninjau berita yang ada di Facebook, memeriksa fakta, dan menilai akurasi konten berita tersebut, bersama dengan mitra lainnya seperti Tirto.id dan AFP.

"Bergabungnya Liputan6.com, Tempo, dan Mafindo dalam program third-party-fact-checking untuk membantu kami melakukan verifikasi berita yang telah dilaporkan oleh komunitas kami di Indonesia," ujar News Partnership Lead for Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

"Kami berkomitmen untuk mengurangi penyebaran berita palsu di Facebook, terutama menjelang Pemilihan Umum 2019. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memperluas jaringan kemitraan kami dengan third-party fact-checker yang dapat membantu kami melakukan verifikasi akurasi berita di Facebook," sambung dia.

Ketika fact-checker menilai sebuah berita mengandung misinformasi, Facebook akan menurunkan visibilitas berita tersebut di Kabar Berita untuk mengurangi penyebarannya secara signifikan.

Cara ini dinilai dapat menghentikan penyebaran berita palsu dan mengurangi jumlah orang yang melihat berita tersebut.

Halaman dan domain yang berulang kali menyebarkan berita palsu juga akan mengalami penurunan distribusi dan kehilangan kemampuan mereka untuk beriklan maupun monetisasi.

Dengan demikian, penyebaran berita palsu dengan motif ekonomi bisa dikurangi, di mana Facebook mencatat penurunan penyebaran dapat mencapai hingga 80 persen ketika sebuah berita ditandai sebagai berita palsu.
 
Hingga saat ini, Facebook menyebutkan sebagian besar mitra fact-checking lebih fokus pada kegiatan meninjau artikel pada platform. Padahal, bagi pelaku kejahatan, berbagi foto dan video juga menjadi peluang baru dalam melakukan manipulasi untuk tujuan misinformasi.

Untuk itu, pekan lalu, Facebook baru saja memberikan kemampuan bagi fact checkers untuk meninjau foto dan video agar bisa lebih mudah mengidentifikasi dan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap berbagai tipe misinformasi.

"Kami sadar bahwa hal ini akan menjadi komitmen jangka panjang kami karena taktik yang digunakan oleh pelaku kejahatan selalu berubah. Karena itu, kami pun mengambil tindakan yang sifatnya jangka pendek dan pada saat yang sama juga berinvestasi dalam hal kemitraan, alat, dan teknologi," kata Alice.

"Ini kami lakukan agar kami bisa senantiasa selangkah lebih maju dalam menangani berbagai tipe baru dari misinformasi," tambah dia.

Baca juga: Facebook perluas cek berita palsu ke foto dan video

Baca juga: Zuckerberg yakin Facebook siap hadapi pemilu

Baca juga: Facebook umumkan fitur Bantuan Komunitas di Facebook Lite

 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar