Syiah peringati Asyura di tengah keamanan ketat

Syiah peringati Asyura di tengah keamanan ketat

Muslim Syiah yang tinggal di Yunani mengikuti prosesi Muharam memperingati Ashura di kota Piraeus dekat Athena, Minggu (25/11). Ashura, hari sepuluh bulan Muharam menandai wafatnya cucu Nabi Muhammad, Imam Hussain dalam pertempuran Kerbala di Irak pada tahun 61 H. (REUTERS/Yorgos Karahalis )

Kabul (ANTARA News) - Jutaan warga Syiah melakukan upacara berkabung pada Kamis untuk menandai Asyura, acara tersuci di kalender mereka, di tengah peningkatan keamanan di banyak tempat untuk melindungi mereka dari serangan aliran.

Spanduk merah dan hijau berkibar di lingkungan Syiah di Kabul, ibu kota Afghanistan, sementara kelompok relawan bersenjata berdiri menjaga di masjid dan persimpangan utama.

Serangan dalam beberapa tahun belakangan membidik terutama suku kecil Syiah, Hazara, yang didaku sempalan IS, dan keamanan memburuk mengakibatkan pengurangan tajam pertemuan umum besar.

Di Bangladesh, negara berpenduduk 160 juta Muslim, tempat pegaris keras menyasar tempat suci dan masjid Syiah dalam beberapa tahun belakangan, pihak berwenang menyatakan keamanan diperketat, demikian reuters melaporkan.

"Meskipun tidak ada ancaman khusus, kami mengambil semua kemungkinan tindakan untuk menghindari kejadian tidak terduga," kata Asaduzzaman Mia, kepala kepolisian metropolitan di Dhaka, ibukota.

Asyura jatuh pada hari ke-10 bulan Muharram kalender Hijriah dan memperingati kesyahidan Imam Hussain Ibn Ali, salah satu cucu Nabi Muhammad, di dekat Karbala, di Irak sekarang, pada 680 Masehi.

Syiah menandai peringatan itu dengan upacara besar terbuka, kadangkala melibatkan penyiksaan diri berdarah untuk menandakan tautan dengan penderitaan Hussain, yang kematiannya melambangkan perjuangan luas melawan penindasan dan tirani.

"Itu bukan sekedar upacara, tapi juga kesempatan untuk mengakui kesalahan pada masa lalu," kata Humayan Kabir, warga Syiah di bagian tua Dhaka.

Baca juga: Korban jiwa serangan tempat ibadah Syiah jadi 40 orang

Kematian Hussain akhirnya menyebabkan pembagian Islam ke dalam dua aliran utama, Sunni dan Syiah, dan dalam beberapa tahun belakangan, peringatan itu dilanda serangan aliran berdarah di beberapa negara.

Di India, kaum Syiah membuat persiapan untuk menandai peringatan itu pada Jumat, sejalan dengan penampakan bulan.

"Kami mengabadikan pertempuran Karbala dan ingin menunjukkan bahwa jika berada di sana, kami akan berjuang bersama Hussain dan keluarganya," kata Nasir Hussain, warga wilayah sengketa Kashmir di Himalaya.

Pelayat akan berkumpul di ibukota keuangan Mumbai pada Kamis untuk upacara pra-Asyura, saat mereka mencambuk diri, berjalan di bara api dan berpentas dengan api.

"Pendirian Imam Hussain bertahun lalu memperkuat keyakinan saya pada kebaikan masyarakat," kata Najaf, peziarah di pusat teknologi India selatan, Bengaluru.

"Itu mengingatkan saya untuk memperjuangkan keyakinan saya, apapun yang terjadi. Ia kalah dalam pertempuran, tapi yang diperjuangkannya masih berlaku hingga hari ini," katanya.

Editor: Boyke Soekapdjo

Pewarta:
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar