counter

Festival Dalang Bocah pupuk darah seni sejak dini

Festival Dalang Bocah pupuk darah seni sejak dini

Sejumlah pengrawit anak-anak mengiringi pertunjukan wayang kulit dalam Parade Dalang Bocah di Gedung Kesenian Batu, Jawa Timur, Sabtu (6/8/2016). Pagelaran yang merupakan upaya meregenerasi kesenian wayang kulit tersebut menampilkan 10 dalang anak-anak dengan penggalan cerita Ramayana dan Mahabarata. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta  (Antara) - Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda Nasional 2018 dapat memupuk darah seni bagi anak-anak dan pemuda untuk mencintai seni tradisi Indonesia sejak dini.

"Wayang bukan hanya warisan budaya bangsa Indonesia, melainkan telah menjadi warisan budaya dunia," kata Deputi IV Bidang Komunikasi Politiik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden  Eko Sulistyo, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.

Eko menekankan pentingnya wayang sebagai tradisi Indonesia yang layak dilestarikan, dan upaya Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) memfasilitasi bakat-bakat muda harus mendapatkan penghargaan tinggi. 

Dia juga menekankan pentingnya adanya upaya adaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk promosi melalui platform media sosial.

Ketua Pepadi Pusat Kondang Sutrisno mengatakan Pepadi telah menjalankan beberapa program pengembangan dan penguatan potensi dalang muda di Indonesia. 

Selain melalui agenda rutin Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda Nasional 2018, Pepadi juga bekerja sama dengan Sanggar Sarotama Surakarta untuk menyelenggarakan agenda rutin Temu Dalang Bocah.

Kondang Sutrisno menjelaskan bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu kegiatan Pepadi untuk memupuk benih-benih dalang belia. 

Kondang menuturkan bahwa  perkembangan jumlah dalang-dalang muda sangat luar biasa. Pada Temu Dalang Bocah 2017, lebih dari 300 dalang bocah berkumpul di Surakarta untuk unjuk kemampuan dan saling berbagi pengalaman. Jumlah ini lebih besar dari kegiatan serupa di tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu,  Ketua Panitia Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018 Suparno Wonokromo menyampaikan bahwa sudah menjadi tanggung jawab Pepadi untuk mewadahi semua geliat dan semangat generasi muda yang kian besar terhadap dunia pedalangan. 

Perhelatan besar ini diselenggarakan tiap tahun karena pentingnya menyediakan wadah untuk pengembangan tradisi pewayangan di Indonesia.

Untuk penyelenggaraan tahun ini, Festival Dalang Bocah diselenggarakan bersama Festival Dalang Muda, menghadirkan dalang-dalang belia dari sejumlah provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Lampung, Kalimantan Selatan  Berlokasi di Panggung Candi Bentar, Taman Mini Indonesia Indah.

 Festival ini terbuka untuk umum tanpa pungutan biaya bagi para pengunjung yang ingin menonton. Pada festival ini ditampilkan pergelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta, wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, wayang kulit Cirebonan, wayang golek, wayang Betawi serta wayang Banjar. Usia peserta beragam mulai dari yang berusia 8 tahun, hingga yang berusia 29 tahun.

Kondang dan Suparno sependapat bahwa diperlukan upaya lebih keras untuk lebih menggalakkan pedalangan di wilayah luar Jawa. 

"Di Sumatera, pertumbuhan potensi dalang muda memang jauh lebih subur dibandingkan di daerah lain. Ini akan menjadi perhatian Pepadi ke depan," jelas Suparno.

Tantangan lain dalam proses pengembangan dunia pedalangan di Indonesia adalah melakukan adaptasi dengan teknologi.

"Pepadi tengah mengembangkan program 'Dalang Bocah Goes Digital', dengan mulai mengupayakan akses seluasnya bagi masyarakat Indonesia terhadap banyak pergelaran wayang melalui teknologi digital," kata Bagian Komunikasi di Festival Dalang Bocah Dan Dalang Muda 2018 Bambang Tri.

 Pepadi melihat pesatnya teknologi telah membawa potensi besar menjadi jembatan yang luas untuk lebih gencar dalam menggalakkan promosi budaya lokal. Berbagai upaya distribusi informasi tentang dunia pedalangan kini telah dilakukan melalui berbagai platform media sosial, termasuk Instagram, Youtube, Twitter dan Facebook. 

Bambang menuturkan bahwa kemampuan dalang muda semakin meningkat karena mereka melihat rekaman-rekaman pergelaran wayang melalui Youtube. "Meski banyak yang mengkhawatirkan teknologi sebagai sebuah ancaman, kami melihat teknologi digital telah mengakselerasi proses berlatih para bibit-bibit dalang muda Indonesia," kata Bambang. 

Baca juga: "Dalang Go Digital" diharapkan buat wayang tetap jadi bagian masyarakat
Baca juga: Matthew Cohen, dalang Amerika yang kasmaran dengan wayang Cirebon


 

Pemkot Solo gelar Festival Dalang Cilik

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar