counter

Penurunan sterling karena kekhawatiran Brexit, dorong dolar lebih tinggi

Penurunan sterling karena kekhawatiran Brexit, dorong dolar lebih tinggi

Dolar Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Kelesuan sterling keluar dengan kekuatan penuh. Mereka telah menekan pound turun dengan sangat agresif pagi ini
New York (ANTARA News) - Penurunan sterling mendorong dolar AS lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan Uni Eropa harus menyediakan proposal alternatif Brexit, setelah pembicaraan menemui jalan buntu karena para pemimpin blok itu menolak rencananya.

Pound Inggris turun 1,5 persen pada perdagangan Jumat (21/9), menetapkan untuk kerugian harian terbesar sejak Juni 2017.

Dolar AS naik didukung pergerakan pound, "rebound" dari posisi terendah awal tetapi masih di jalur untuk penurunan mingguan terbesar sejak Februari karena menguatnya pasar ekuitas dan meningkatnya imbal hasil obligasi memicu serbuan membeli aset-aset berisiko.

Dalam pertemuan puncak di Austria pada Kamis (20/9), sebut Reuters, para pemimpin Uni Eropa mengatakan mereka akan mendorong kesepakatan Brexit bulan depan tetapi menolak rencana Chequers May, mengatakan dia harus menyerah pada kekuatan yang lebih besar tentang perdagangan dan pengaturan perbatasan Inggris dengan Irlandia.

"Kelesuan sterling keluar dengan kekuatan penuh. Mereka telah menekan pound turun dengan sangat agresif pagi ini," kata Dean Popplewell, kepala strategi mata uang di Oanda di Toronto," dan sepertinya mereka ingin menekannya lebih jauh."

Indeks dolar AS naik 0,36 persen menjadi 94,229 karena investor mengkonsolidasikan posisi sebelum akhir pekan, tetapi greenback masih ditetapkan untuk penurunan mingguan terbesarnya sejak Februari.

"Dibalik (penurunan pound), itu menarik dolar AS mendapat sedikit tawaran juga. Kesengsaraan perdagangan dalam 48 jam memberi sedikit dukungan dan itu memungkinkan beberapa pengambil risiko untuk menetapkan pandangan mereka pada beberapa mata uang G7 lainnya," kata Popplewell.

Aksi jual dalam dolar AS yang dimulai pada Kamis (20/9) mengumpulkan tenaga semalam karena investor meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve AS akan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga setelah kenaikan yang diperkirakan minggu depan.

Ekspektasi pasar adalah untuk sekitar dua kali kenaikan suku bunga AS tahun depan dan Russell Investments mengatakan risiko resesi jangka menengah dalam perekonomian AS sekarang meningkat, menunjuk ke sejumlah indikator seperti pasar tenaga kerja yang mengetat.

Dengan kekhawatiran perang perdagangan surut dan bank-bank sentral negara berkembang dipimpin oleh Turki mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan mata uang mereka, investor mendorong euro ke garis 1,18 dolar AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan selama sesi Eropa. Kemerosotan dolar, bagaimanapun, mendorong mata uang tunggal euro kembali ke merah di 1,175 dolar AS.

Baca juga: Kekhawatiran perang dagang mereda, dolar mulai melemah
 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar