counter

Sambutan istimewa dari Bali untuk delegasi IMF-WB

Sambutan istimewa dari Bali untuk delegasi IMF-WB

Ratusan seniman menampilkan Tari Cak Kolosan saat syukuran penyelesaian patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran, Bali, Sabtu (4/8/2018). Patung setinggi 121 meter tersebut terdiri dari 754 modul dirancang selama 28 tahun oleh seniman Nyoman Nuarta yang nantinya akan digunakan untuk menyambut para delegasi Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (Annual Meeting IMF-WB) 2018. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

Denpasar  (ANTARA News) - Bali selama ini memang sudah tersohor dengan seni budayanya yang adiluhung. Dalam setiap aktivitas kehidupan masyarakatnya selalu ada sentuhan seni dan budaya, yang bernapaskan Agama Hindu.

Termasuk, dalam persiapan Bali menyambut pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank/WB) pada 8-14 Oktober 2018, yang ternyata tidak bisa dilepaskan dari unsur seni dan budaya.

Bahkan, Pemerintah Provinsi Bali telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk menyiapkan penampilan pawai budaya memeriahkan ajang pertemuan yang dihadiri belasan ribu peserta dari 189 negara tersebut.

Gagasan suguhan pawai budaya Bali itu awalnya datang dari Presiden Joko Widodo yang disampaikan kepada Gubernur Bali dua periode (2008-2018) Made Mangku Pastika.

Presiden sebelumnya terkesima dengan pelaksanaan pawai dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar setiap tahun di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Denpasar.

Pawai PKB sendiri selama ini diikuti oleh perwakilan sembilan kabupaten/kota di "Pulau Dewata" yang menampilkan kesenian khas daerah masing-masing, pakaian adat perkawinan, deretan sesajen, alunan gamelan, hingga mobil hias yang dirancang begitu megah.

 "Beliau (Presiden) bilang Pesta Kesenian Bali bagus sekali. Menurut Presiden, `nggak` banyak di Indonesia, termasuk di dunia yang bisa seperti kita, bahkan beliau berkunjung ke India, katanya itu tidak seperti kita di Bali," kata Pastika.

 Dari hasil pembicaraan Pastika dengan Kepala Negara, Presiden juga menyatakan bahwa seni budaya Bali masih sangat kental dengan agamanya.

"Oleh karenanya, beliau minta nanti pada pertemuan IMF-WB supaya diadakan acara seperti ini," ujar Pastika setelah mendampingi Presiden Joko Widodo berkeliling menaiki mobil hias di sela-sela pawai PKB ke-40 di Denpasar, beberapa bulan lalu.

Setelah masa jabatan Pastika berakhir dan digantikan dengan Gubernur Bali Wayan Koster yang dilantik 5 September lalu oleh Presiden di Istana Negara, maka rencana penampilan pawai budaya dalam pertemuan IMF-WB semakin dimatangkan.

Gubernur Koster didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha dan jajaran terkait, telah intensif menggelar rapat-rapat untuk persiapan pawai budaya tersebut.

Bahkan, Gubernur Bali itu belum lama ini sudah dipanggil ke Jakarta untuk memaparkan kesiapan Bali dalam penampilan pawai budaya.

Menurut dia, Bali sangat berkepentingan agar ajang prestisius pertemuan IMF-WB itu berjalan dengan sukses karena selain mempertaruhkan nama baik Bali dan Indonesia, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang sangat besar.

Oleh karena itu, dengan ajang pertemuan IMF-WB, maka citra pariwisata Bali akan naik dan menjadi promosi gratis bagi kepariwisataan daerah setempat.

"Pertemuan tahunan IMF-WB bagi saya merupakan ujian berat. Kalau sampai ada kesalahan, tak hanya nama Bali yang rusak, tetapi juga akan membawa nama negara," ujar Koster.

Ritual kelahiran-kematian

Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya menawarkan tiga opsi rancangan pawai budaya yang akan ditampilkan dalam rangkaian pertemuan IMF-WB.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha mengemukakan ketiga opsi yang disiapkan yakni yang pertama akan menampilkan sepenuhnya mengenai seni budaya Bali yakni prosesi ritual kehidupan dari bayi baru lahir hingga seseorang meninggal dunia.

 Opsi kedua, pawai seni budaya Nusantara yang juga menampilkan kesenian sejumlah daerah di Nusantara seperti Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Papua dan sebagainya, namun tetap didominasi penampilan seni budaya Bali.

 Opsi ketiga, selain menampilkan seni budaya Bali, sekaligus juga melibatkan pawai budaya dari sejumlah perwakilan Negara Sahabat di Bali.

 Tetapi, akhirnya diputuskan pawai budaya itu memilih opsi yang pertama yakni ritual siklus kehidupan masyarakat Bali dari proses kelahiran hingga kematian dengan mengangkat tema "The Life and Economy Bali".

Untuk pawai budaya yang rencananya digelar pada 12 Oktober 2018 itu, sudah disiapkan dengan pawai budaya yang dikemas atraktif, inovatif dan dinamis, serta semua bentuk seni ditampilkan dengan atraksi berjalan.

 Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sejumlah komunitas, sanggar dan lembaga seni akan dilibatkan dalam prosesi pawai budaya yang lokasinya sesuai surat yang diterima Dinas Kebudayaan Bali bisa digelar di kawasan Nusa Dua ataupun di Renon, Denpasar.

 ISI Denpasar akan membawakan garapan tentang ritual Pecaruan Rsi Gana yakni upacara mengenai pembersihan alam semesta yang dilakukan oleh pemangku (pemimpin ritual keagamaan), serati banten (pembuat sesajen), tukang kidung, petugas ngiderang (pemutar) caru, pasukan bhuta kala dan sebagainya. Ritual akan diiringi gamelan Ketug Bumi.

Sanggar Paripurna Gianyar akan membawakan ritual Dewa Yadnya, khususnya upacara persembahan terhadap Dewi Sri Sedana sebagai Dewi Kemakmuran.

Garapan ini divisualisasi dengan atraksi Ogoh-Ogoh Dewi Sri Sedana diiringi tari Rejang dan Baris Gede serta dimeriahkan perangkat upacara seperti tedung, umbul-umbul, pasukan gebogan buah, gebogan bunga, serta diiringi gamelan balaganjur.

Sementara itu, Sanggar Penggak Men Mersi, Denpasar menampilkan garapan mengenai ritual kelahiran, khususnya yang disajikan upacara "Tigang Sasih" di atas mobil hias yang dilanjutkan dengan permainan 100 anak-anak SD bertemakan Goak Ngalih Ikut.

Sanggar Pancer Langit akan membawakan ritual Raja Sewala, yang divisualisasikan dengan lima pasang muda-mudi yang diupacarai di atas mobil hias. Pada bagian ini juga dimeriahkan dengan tradisi Perang Ketupat yang ada di Desa Kapal, Badung.

 Sedangkan SMKN 3 Sukawati, Gianyar, akan membawakan ritual Potong Gigi yang dilakukan di atas mobil hias. Kegiatan ini dilanjutkan dengan "fashion show" singkat berbagai jenis pakaian adat Bali yang dibawakan pemuda-pemudi. Bagian ini diiringi gamelan Semara Pagulingan.

Sanggar Gumi Art, Denpasar menampilkan prosesi pengantin Bali. Kedua pengantin diarak dengan "gayot" atau tandu, dengan diiringi prosesi? perangkat upacara, keluarga, perangkat desa. Bagian ini dimeriahkan dengan penampilan tari Joged Bumbung massal.

Yang terakhir, Sanggar Gases Denpasar mendapat bagian menampilkan ritual kematian dengan divisualisasikan dalam prosesi upacara Ngaben tradisi puri.

Atraksi dapat dilakukan dengan menarikan sarana bade, lembu, dan naga banda. Bagian ini diiringi gamelan balaganjur dan perangkat prosesi lainnya.

Pulau Dewata dengan kekhasannya yang unik siap menampilkan "sambutan istimewa" untuk delegasi pertemuan akbar tahunan IMF-WB dengan seni dan budaya yang menyiratkan makna ritual tentang siklus hidup orang Bali yang menyebabkan terjadinya perputaran ekonomi yang dinamis dan harmonis.

Baca juga: Jangan lupa bertamasya di pertemuan tahunan IMF-WB!
Baca juga: Ratusan mahasiswa pariwisata diterjunkan selama Pertemuan IMF-Bank Dunia

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

JK jamin pinjaman darurat ADB hanya untuk pascabencana

Komentar