Rasa yang pas untuk film "Aruna dan Lidahnya"

Rasa yang pas untuk film "Aruna dan Lidahnya"

Aruna dan Lidahnya (instagram/palarifilms)

Jakarta (ANTARA News) - "Aruna dan Lidahnya" jadi pembuktian daya pikat masakan-masakan Indonesia di layar lebar, juga keberhasilan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra keluar dari bayang-bayang Cinta-Rangga.

Ini adalah film panjang keempat dari sutradara peraih Piala Citra, Edwin, (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang, Posesif), pengalaman pertamanya membuat film yang berfokus pada empat karakter.

Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang ahli wabah pencinta makanan yang menganggapnya sebagai hal sakral yang patut dinikmati sepenuh hati.

Bono (Nicholas Saputra), sahabat Aruna yang juga seorang chef pemilik restoran yang gemar mengulik rasa dan pembuatan makanan.

Nad (Hannah Al Rashid), kritikus makanan ternama yang sudah menerbitkan buku tentang kritik makanan.

Terakhir ada Farish (Oka Antara), pria kaku pujaan hati Aruna yang menganggap makanan cuma untuk mengenyangkan perut.

Pemilihan aktor dan aktris ternama ini dibarengi dengan chemistry yang patut diacungi jempol sehingga keempat karakter berpadu harmonis.
 
Aruna dan Lidahnya (Screenshot YouTube)


Diadaptasi dari novel Laksmi Pamuntjak, film dari "Aruna dan Lidahnya" membuat penyesuaian plot di sana-sini. Konfliknya dibuat lebih sederhana agar ceritanya tetap fokus. 

Misalnya, Aruna dalam versi novel tak cuma tertarik pada Farish, tapi diam-diam juga menyimpan hati pada pria lain, namun tokoh itu tak ada di film sehingga fokus penonton tetap pada Aruna-Farish semata.

"Aruna dan Lidahnya" berawal dari Aruna yang ditugaskan kantornya menyelidiki kasus flu burung ke Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang. 

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bono yang ingin sekalian berwisata kuliner bersama sahabatnya di sana. 

Di tengah perjalanan, Nad atas ajakan Bono juga ikut nimbrung menikmati kelezatan makanan-makanan khas di kota-kota yang dikunjungi Aruna.
 
Aruna dan Lidahnya (Screenshot YouTube)


Tak disangka, Aruna bertemu dengan Farish yang ditugaskan ke tempat yang sama dengannya. Perasaan Aruna --yang masih menyimpan hati untuk Farish sejak lama-- jadi tidak karuan.

Mereka punya pendekatan berbeda dalam mencocokkan data dari kantor dengan temuan lapangan. Farish sangat kaku dalam melaksanakan prosedur, sementara Aruna masih lebih santai selama belum ada bukti nyata pasien yang ia temui memang betul-betul terjangkit wabah.

Di sela pekerjaan (Aruna dan Farish), keempat orang itu asyik berbincang tentang cinta, prinsip, agama hingga ilmu pengetahuan di meja makan sambil menikmati rawon, campur lorjuk, soto lamongan, nasi goreng, pengkang sampai choi pan. 

"Biasanya film saya tidak banyak dialog, sekarang (Aruna) banyak dialog, tapi saya ingin menampilkan sewajar mungkin," kata sutradara Edwin.
 
Aruna dan Lidahnya (Screenshot YouTube)


Terasa pas

Setelah bertahun-tahun terjebak pada label "Cinta dan Rangga", Dian dan Nicholas akhirnya berhasil memperlihatkan seperti apa aslinya persahabatan mereka pada dunia lewat Aruna dan Bono. 

Aruna dan Bono adalah pembuktian bahwa perempuan dan laki-laki bisa betul-betul bersahabat tanpa ada udang di balik batu.

Oka Antara juga tampil memikat sebagai Farish yang kaku tapi membuat jantung Aruna merasa dag dig dug saat ada ucapan dan gerak-gerik yang mengindikasikan adanya ketertarikan.

Tingkah komikal Aruna di sana-sini menjadi salah satu bumbu komedi yang cukup untuk membuat penonton tertawa di sela rasa lapar akibat melihat shot-shot makanan yang menggiurkan. 
 
Aruna dan Lidahnya (Screenshot YouTube)


Simak juga percakapan seputar hal-hal intim antar perempuan yang keluar dari mulut Nad dan Aruna.

Dua perempuan ini punya pendekatan yang berbeda total soal cinta, tapi toh mereka saling menghargai dan perbedaan itu bukan penghalang dari persahabatan mereka.

Ibarat rasa masakan, semua dialog dari naskah yang ditulis Titien Wattimena itu terasa pas. Perbincangannya terdengar alami dan tidak berlebihan, seperti melihat empat sahabat bercengkrama di dunia nyata. Ketika ada konflik, semuanya tetap wajar dan tidak berlebihan.

"Jarang banget film indonesia yang temanya persahabatan dan dialognya real, relatable, dan tidak kaku,” ungkap Hannah yang jatuh hati dengan film ini ketika pertama kali membaca skenarionya.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar