Unida Gontor kembangkan kerja sama dengan Rusia

Unida Gontor kembangkan kerja sama dengan Rusia

Kunjungan Wapres Ke Gontor Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyampaikan sambutan di gedung pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (20/8/2016). Kehadiran Wakil Presiden Jusuf Kalla di Gontor dalam rangka sujud syukur 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, penandatanganan prasasti dan peletakan batu pertama pembangunan asrama mahasiswa Universitas Darussalam (Unida) Gontor. (ANTARA/Siswowidodo)

London (ANTARA News) - Universitas Darussalam (Unida) Gontor berkeinginan untuk mengembangkan kerja sama dengan institusi muslim dan perguruan tinggi Rusia dengan diadakannya pertemuan dan penjajakan kerja sama dengan dua universitas terkemuka di Rusia, St. Petersburg State University (SPBGU) di St. Petersburg dan National Research University Higher School of Economics (HSE).

Dalam kunjungan ke Rusia pada tanggal 24 sampai 29 September 2018, Rombongan Unida juga mengunjungi Masjid Agung Moskow dan berdiskusi dengan Dewan Mufti Rusia, demikian Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara London, Minggu.

Rombongan Unida dipimpin langsung Presiden Unida KH Hasan Abdullah Sahal dan Rektor Unida KH Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi juga sempat mengisi pengajian di dapan masyarakat Muslim Indonesia di Rusia yang tergabung dalam Himpunan Persaudaraan Islam Indonesia (HPII) di Mushola KBRI Moskow.

Prof Amal mengatakan kunjungannya ke Rusia bertujuan untuk dapat menjalin dan mengembangkan networking dengan perguruan tinggi di Rusia. Banyak alumni Unida yang memiliki kemampuan dan berkeinginan melanjutkan studinya di luar negeri.

Saat ini terdapat alumni Unida yang studi di Rusia. Kerja sama dapat dilakukan dalam bentuk penelitian bersama untuk para dosen dan pertukaran mahasiswa.

"Alhamdulillah, perguruan tinggi Rusia menyambut baik untuk bekerja sama dengan Unida. Kami optimis untuk lebih intensif lagi menjalin komunikasi dengan mereka," ujarnya.

Unida merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang unik berdasarkan sejarah pendirian dan sistem pendidikannya. Meskipun berlandaskan tradisi Islam. Unida berkembang sebagai perguruan tinggi swasta modern.

Unida tidak hanya memiliki fakultas dan program studi Islam, seperti Fakultas Ushuluddin, Tarbiyah, Syariah, tetapi juga fakultas umum lainnya, yaitu Ekonomi dan Manajemen, Humaniora, Ilmu Kesehatan, serta Sains dan Teknologi. Unida telah memiliki kerja sama dengan berbagai peguruan tinggi di luar negeri.

Pengembangan kerja sama dengan HSE di Moskow dapat dititikberatkan pada bidang ekonomi, menajemen, dan humaniora. Sedangkan kerja sama dengan SPBGU di St. Petersburg dapat difokuskan pada bidang sejarah dan budaya Islam, selain bidang-bidang umum lainya, baik ekonomi, humaniora, maupun kesehatan.

Dalam pertemuan Unida dengan Dewan Mufti Rusia dibahas pengembangan kerja sama di bidang pendidikan Islam dan upaya-upaya mendekatkan hubungan antara komunitas muslim Rusia dan Indonesia. Unida mengundang mahasiswa muslim Rusia untuk belajar di Unida.

Wakil Ketua Dewan Mufti Rusia, Damir Hazrat Gizatullin menyampaikan masyakarat muslim Rusia merasa dekat dengan Indonesia dan tetap mengenang Presiden Soekarno yang pernah berkunjung ke Masjid Agung Moskow tahun 1956.

Presiden Soekarno juga berjasa dalam pengembalian fungsi Masjid Agung St. Petersburg sebagai tempat ibadah umat muslim setempat. "Indonesia dapat dijadikan contoh bagi kami, seperti dalam penanganan haji. Kami juga mendukung agar mahasiswa muslim Rusia dapat belajar di Indonesia,* ujarnya.

Setelah runtuhnya Uni Soviet tahun 1991, komunitas muslim di Rusia mengalami kebangkitan. Masyarakat muslim terus berkembang. Saat ini terdapat sekitar 7000 masjid di seluruh Rusia.

Menurut Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi, kerja sama pendidikan dan keagamaan dapat turut mendekatkan hubungan antara bangsa Indonesia dan Rusia.

Kerja sama pendidikan dan keagamaan juga dapat berdampak positif pada kerja sama ekonomi, perdagangan dan pariwisata. Rusia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di Eropa dengan jumlah sekitar 20-25 juta orang.

Oleh karena itu, kerja sama dengan Rusia terkait bidang keagamaan, khususnya Islam, juga sangat potensial. Tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga bagi pemasaran beragam produk halal Indonesia, ujar Dubes Wahid.*

Baca juga: Menteri Susi serahkan ikan tuna ke Gontor

 

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pemerintah dorong UMKM Indonesia tembus pasar Rusia

Komentar