Peneliti sebut psikologis siswa-guru korban gempa harus pulih dulu

Peneliti sebut psikologis siswa-guru korban gempa harus pulih dulu

Sejumlah korban gempa bumi dan tsunami menjalani perawatan di Posko Darurat Bencana Rumah Sakit Undata Palu, di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018). Berdasarkan data Posko Korem 132 Tadulako, hingga Rabu (3/10) jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Palu mencapai 1.411 orang. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/kye

Setelah kondisi psikologis mulai pulih, barulah dapat memulai materi pembelajaran ...
Jakarta (ANTARA News) - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menekankan pemerintah agar jangan melupakan pemulihan psikologis para siswa dan guru sebelum mereka memulai kembali aktivitas pendidikan di sana.

"Para siswa dan guru yang menjadi korban bencana alam dihadapkan pada situasi yang tidak mudah di mana mereka sangat mungkin mengalami trauma karena bencana atau kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggalnya," kata Peneliti CIPS Pandu Baghaskoro, Jumat.

Menurut dia, pemulihan kondisi psikologis sangatlah penting bagi para korban sebelum dapat memulai kembali aktivitas pendidikan.

Ia berpendapat bahwa tanpa mental yang baik, tidak mungkin kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan optimal.

"Secara bertahap, setelah kondisi psikologis mulai pulih, barulah dapat memulai materi pembelajaran," ucapnya

Pandu menyarankan pemerintah untuk mengadakan uji psikologis/trauma yang cukup menyeluruh yang terukur, yang bertujuan untuk mengukur kondisi psikologi para korban sebelum akhirnya menentukan momen yang tepat untuk memulai kembali kegiatan pembelajaran.

Hal tersebut penting, lanjutnya, karena trauma bisa menjadi masalah berkepanjangan kalau tidak diatasi.

"Melalui kegiatan-kegiatan pemulihan yang bersifat edukatif dan menghibur, siswa dan para guru bisa dilibatkan. Dengan terlibat dalam kegiatan seperti ini, proses pemulihan pelan-pelan dimulai," papar Pandu.

Selain itu, ia juga menyoroti pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak juga harus mendapatkan perhatian, serta endataan sarana dan prasarana pendidikan sangat diperlukan sebagai bagian dari proses pemulihan kondisi psikologi para korban, terutama siswa dan guru, yang memang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar mengajar.

Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menyiapkan tenaga konseling untuk membantu pemulihan psikologis anak dan perempuan korban gempa bumi dan tsunami Palu, Sulawesi tengah.

"Pendampingan tenaga psikologi untuk korban gempa Palu dalam rangka membantu mengatasi trauma perempuan dan anak," ungkap Menteri PPPA Yohana Yembise di Kampung Wardo, Distrik Biak Barat selepas pelantikan pengurus Srikandi Sungai Indonesia, Selasa (2/10).

Ia mengaku sudah mengutus staf kementerian untuk melakukan inventarisasi terhadap kebutuhan korban gempa Palu, Donggala, dan daerah lain di Sulawesi Tengah, khususnya kalangan anak dan perempuan.

Baca juga: Pemulihan psikologi korban gempa Lombok
 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kerajaan fiktif dari perspektif sosiologi

Komentar