"Nyai": Kisah wanita pribumi dalam pusaran konflik era kolonial Belanda

"Nyai": Kisah wanita pribumi dalam pusaran konflik era kolonial Belanda

Poster film "Nyai" di Jakarta, Sabtu (6/10/2018). (Antara News/Aji Cakti)

Jakarta (ANTARA News) - Nyai (Annisa Hertami), perempuan pribumi yang menikah dengan Willem van Erk (Rudi Corenz) pria Belanda tua sakit-sakitan dan suka jelalatan menggoda wanita lebih muda serta cantik dari Nyai.

Suatu hari Nyai menggelar pesta ulang tahun suaminya tersebut dengan mengundang beragam tokoh dari beragama kalangan, mulai dari pemusik hingga kiai.

Tidak hanya itu, orang-orang yang berkepentingan dengan Nyai pun banyak mengunjungi rumah besar itu. Dari pengacara pribumi yang berupaya menguras harta si Belanda, jurnalis yang berupaya memetik kuntum sang Nyai, buruh-buruh pabriknya yang menuntut kepastian status hingga pengacara Eropa suruhan istri pertama si Belanda untuk menyita seluruh harta suaminya di Indonesia.

Walaupun berstatus sebagai istri simpanan seorang Belanda. Nyai berupaya bersikap mandiri, pintar, ambisius, dan tetap cantik nan sensual layaknya wanita karier zaman sekarang. 

Dia berupaya berdiri tegak dalam perubahan zaman pergerakan nasional Indonesia di era penjajahan Belanda tahun 1920-an. Nyai berupaya merengkuh, memimpin, dan merayu semua kalangan, walaupun tak semuanya berhasil bahkan ada yang berujung pada tragedi.

Film "Nyai" garapan sutradara Indonesia Garin Nugroho berhasil menampilkan perjalanan beragam sejarah Indonesia dalam waktu cukup padat yakni 89 menit.

Mulai sejarah pergerakan nasional, asal usul menguatnya paham Komunis dan Islam Politik, hingga lahirnya film Indonesia pertama "Loetoeng Kasaroeng" berhasil dirangkum oleh Garin hanya dalam bentuk dialog antar pemainnya.

"Nyai" juga berhasil mempertemukan benturan serta paradoks ideologi, hukum, kepentingan dan sifat manusia di Indonesia tersebut dalam satu latar yakni rumah tuan Willem.

Hebatnya lagi "Nyai" digarap oleh Garin dengan metode one camera, one shot and real time seperti pentunjukan teater. Sebuah metode paling berisiko yang jika gagal atau terdapat gangguan sekecil apapun, seperti diakui Garin, harus diulang lagi dari adegan paling pertama.

Performa akting para pemainnya juga sangat mendukung. Annisa Hertami berhasil menampilkan sosok Nyai yang angkuh, tegas, tegar, pintar dan cantik namun di satu sisi haus akan sentuhan serta kasih sayang pria Indonesia.

Uniknya, menurut aktor Haydar Salishz yang turut bermain dalam film ini, menyebutkan bahwa peforma akting para pemainnya dalam "Nyai" sangat natural dan tanpa gimmick sama sekali seperti penampilan kehidupan sehari-hari.

"Nyai" tidak tayang di bioskop-bioskop reguler.Film ini hanya diputar di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya, serta dalam rangka rangkaian acara workshop Masterclass yang digelar oleh Garin Nugroho dengan mengusung tema "The Art of Movie Directing".

 
 Baca juga: Film garapan Garin Nugroho bakal diputar di TIFF 2018
Baca juga: Film bertema pengadilan impian terpendam Garin Nugroho


 

Oleh Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar