counter

Pertemuan IMF-WB

Menkeu ingatkan potensi penghambat pertumbuhan, termasuk kenaikan bunga The Fed

Menkeu ingatkan potensi penghambat pertumbuhan, termasuk kenaikan bunga The Fed

Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde (kiri) dan Executive Secretary United Nation (UN) Economic Commision untuk Afrika Vera Songwe (kanan) saat diskusi Pemberdayaan Wanita di Dunia Kerja pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). Seminar tersebut membahas kebijakan untuk meningkatkan partisipasi wanita dalam dunia kerja dan penguasaan teknologi. (ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari/foc)

Kami menganggap risiko yang berasal dari The Fed masih sangat ada, karena mereka menyampaikan akan tetap menaikkan suku bunga tahun depan
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan tentang adanya risiko yang berpotensi menghambat kinerja pertumbuhan ekonomi pada 2019, yang salah satunya berasal dari kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

"Kami menganggap, risiko yang berasal dari The Fed masih sangat ada, karena mereka menyampaikan akan tetap menaikkan suku bunga tahun depan," katanya saat berbincang dengan Antara di Nusa Dua, Bali, Selasa.

Sri Mulyani menjelaskan kenaikan suku bunga The Fed ini dapat menyebabkan penguatan dolar AS serta membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal dan membuat investasi menjadi tertahan serta tidak mampu tumbuh sesuai potensinya.

Selain itu, risiko dari terjadinya perang dagang antarnegara maju masih menjadi isu utama dalam perekonomian global pada 2019 karena hal ini dapat menciptakan ketidakpastian terhadap kinerja ekspor impor yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi.

"Risiko dari trade war masih sangat nyata, bahkan mungkin ada eskalasi karena semakin politis, berarti ini akan menciptakan ketidakpastian terhadap ekspor," ujarnya.

Ia menambahkan risiko eksternal lainnya terkait dengan situasi geopolitik yang bisa berpengaruh kepada harga komoditas global seperti minyak dunia.

Meski demikian, Sri Mulyani masih optimistis kinerja pertumbuhan ekonomi pada 2019 bisa mencapai 5,3 persen karena adanya peningkatan konsumsi yang didukung oleh inflasi rendah serta belanja yang meningkat jelang penyelenggaraan pemilu.

"Tahun depan kita tetap 5,3 persen, tapi risiko terhadap tingkat pertumbuhan itu makin meningkat, dan kita harus waspada terhadap itu. Mungkin semester satu akan lebih bumpy karena ada spill over dari kenaikan suku bunga AS, namun kuartal dua atau semester dua, jauh lebih stabil," katanya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam publikasi terbaru menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2018 dan 2019, dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen, karena adanya beberapa risiko yang mulai berdampak nyata.

Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook tersebut, Indonesia diproyeksikan hanya tumbuh sebesar 5,1 persen dalam periode 2018-2019.

Baca juga: Menkeu: Pemerintah lakukan penyesuaian seiring kenaikan bunga The Fed
Baca juga: Dampak perang dagang, Indonesia optimalkan bauran kebijakan fiskal-moneter

 

Pewarta:
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar