Badan Otorita Danau Toba tanda tangani investasi Rp6,1 triliun

Badan Otorita Danau Toba tanda tangani investasi Rp6,1 triliun

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Kemenpar Arie Prasetyo (paling kiri) bersama dengan tujuh investor pariwisata usai menandatangani perjanjian kerja sama investasi pengembangan kawasan pariwisata Danau Toba senilai 400 juta dolar AS atau Rp6,1 triliun pada lahan seluas 77,5 hektare di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). (ANTARA/HO/Kementerian Pariwisata)

Kami bersama-sama dengan para investor akan memastikan bahwa proses pengembangan berjalan sesuai dengan pendekatan eco-tourism
Jakarta (ANTARA News) - Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Kementerian Pariwisata RI dan tujuh investor menandatangani perjanjian kerja sama investasi pengembangan Danau Toba, Sumatera Utara, senilai 400 juta dolar AS atau setara Rp6,1 triliun.

Siaran pers Kementerian Pariwisata yang diterima di Jakarta, Jumat menyebutkan penandatanganan yang diselenggarakan bersamaan dengan gelaran IMF-Word Bank Group Annual Meeting dalam Forum Pembangunan Berkelanjutan Tri Hita Karana Ke-2 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018) tersebut mencakup lahan pengembangan seluas 77,5 hektare.

Penandatanganan kerja sama investasi dilakukan Direktur Utama BPODT Kemenpar Arie Prasetyo bersama pimpinan tujuh investor dengan disaksikan Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, yang juga Ketua Dewan Pengarah BPODT Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.

Sebagai pengelola kawasan, BPODT memastikan para investor melakukan pengembangan dengan pendekatan ekowisata (eco-tourism), yaitu pengembangan wisata dengan menjaga kelestarian lingkungan, pengembangan yang melibatkan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat di sekitar Danau Toba, serta pengembangan dengan menjaga kearifan lokal dan tradisi warisan budaya setempat.
   
Pada Juli 2018, Presiden Joko Widodo telah mencanangkan Danau Toba sebagai salah satu dari empat tujuan pariwisata superprioritas yang menjadi fokus pengembangan.  
   
Selain itu, pemerintah juga menargetkan Danau Toba sebagai kawasan ekowisata andalan Indonesia, dan diharapkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara akan terus meningkat.
   
Arie Prasetyo menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik para investor yang berkomitmen tinggi untuk mengembangkan Danau Toba sebagai kawasan ekowisata.
   
"Kerja sama yang terjalin ini tidak hanya mengenai solusi investasi saja. Kami bersama-sama dengan para investor akan memastikan bahwa proses pengembangan berjalan sesuai dengan pendekatan eco-tourism yang menjaga keharmonisan alam, manusia dan aspek spiritual," ujarnya.
   
Lebih lanjut Arie menjelaskan, sejak dimulainya kerja sama itu, para investor akan mulai melakukan pengembangan dengan membangun fasilitas-fasilitas penunjang pariwisata, seperti hotel dan resor berstandar internasional, arena meeting, incentive, convention and exhibition (MICE), agro-forestry, pertanian organik, wisata desa, pendidikan tentang pariwisata dan pemberdayaan sosial-ekonomi yang memungkinkan masyarakat di wilayah pariwisata Danau Toba dan sekitarnya menjadi sejahtera.
   
Luas area yang dimanfaatkan lebih kurang 386 hektar di Kabupaten Toba Samosir untuk proyek Pengembangan Wisata Ekobudaya Danau Toba (Lake Toba Eco-Cultural Tourism Development).
   
Beberapa terobosan telah dilakukan untuk meningkatkan kepariwisataan Indonesia agar dikenal di dunia internasional, termasuk mengupayakan agar Geopark Kaldera Toba mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Pada 2019, industri pariwisata diproyeksikan menyumbang devisa terbesar di Indonesia, yaitu 20 miliar dolar AS, serta ditargetkan menjadi yang terbaik di kawasan regional, melampaui ASEAN.

Baca juga: Google luncurkan informasi Danau Toba
Baca juga: Jokowi-Lee sepakat buka lebih luas konektivitas demi pertumbuhan pariwisata

 

Pewarta:
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar