BKKBN: Aplikasi Monika untuk menyelamatkan investasi kesehatan

BKKBN: Aplikasi Monika untuk menyelamatkan investasi kesehatan

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dr Ir Dwi Listyawardani MKes di Cirebon, Jumat (12/10) membuka Sosialisasi Monika dan Praktek Mandiri Bidan Tempat Magang yang diikuti 75 bidan dari Kota dan Kabupaten Cirebon. (Budi Santoso/B013)

Cirebon (ANTARA News) -  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  meluncurkan Aplikasi Monitoring Berkualitas atau Monika untuk menyelamatkan investasi bidang kesehatan karena pemerintah sudah mengeluarkan dana untuk pelatihan ketrampilan memasang IUD dan implan bagi 48.000 lebih tenaga kesehatan.

"Hanya 10 persen lulusan pelatihan itu yang meraih sertifikat kompetensi itu. Aplikasi Monika akan mempermudah dokter dan bidan mendapatkan sertifikat kompetensi," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dwi Listyawardani di Cirebon, Jumat.

Pada acara Sosialisasi Monika dan Praktek Mandiri Bidan Tempat Magang, Dwi mengungkapkan, BKKBN telah bekerja sama dengan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK) melatih 11.331 dokter dan 37.147 bidan sepanjang 2011 sampai 2016 dalam hal keterampilan klinik CTU IUD dan Implan.

"Namun banyak dari lulusannya belum mendapat sertifikat kompetensi," katanya.

Mencermati perkembangan terkait legalitas kompetensi para Dokter dan Bidan yang telah dilatih itu maka dikembangkan suatu aplikasi online yaitu Monika singkatan dari monitoring berkualitas.

Baca juga: BKKBN berupaya tekan angka putus pemakaian kontrasepsi

"Dokter dan bidan yang sudah ikut pelatihan cukup mengup load bukti telah melakukan praktek pemasangan IUD tiga akseptor dan implan tiga akseptor. Bukti nanti akan diverifikasi, jika benar maka otomatis mendapat sertifikat kompetensi," katanya.

Monika akan mendata ulang dokter dan bidan yang telah dilatih, memetakan yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan apabila belum memiliki sertifikat dapat melakukan proses sertifikasi kompetetensi melalui website Monika di www.monikabkkbn.org.

Aplikasi ini saat ini telah diujicobakan di 6 Provinsi yaitu Sulsel, Sumsel, Bali, DIY, Jateng, Kaltim. Selain provinsi itu, aplikasi itu mulai diujicoba di Cirebon dan Kabupaten Cirebon.

Baca juga: BKKBN targetkan 14.000 Kampung KB hingga akhir 2018

Sementara itu untuk meningkatkan keterampilan dan menambah pengalaman bagi bidan yang masih junior maka program yang dikembangkan adalah dengan permodelan Praktik Mandiri Bidan Tempat Magang. 

“Dengan peningkatan pengetahuan dan wawasan tenaga provider medis yang kompeten dalam pelayanan KB diharapkan akan sangat mendukung tercapainya hasil pelayanan KB yang maksimal dan berkualitas," katanya dihadapan 75 bidan dari Kota dan Kabupaten Cirebon.

Hadir pada acara itu Kepala Perwakilan BKKBN dari Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Jambi.

Usai acara tersebut, Dwi didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Teguh Santoso dan Kol Kes Dr dr Arief Setiawan SpOG (K) Mkes Mars selaku Ketua Tim Pelayanan KB MOW MOP terpusat tingkat Jabar mengunjungi acara Bakti TNI Kesehatan Terpadu 2018 di Rumah Sakit Budi Luhur Cirebon. 

Bakti sosial itu yang memberikan layanan gratis operasi vasektomi atau dikenal dengan Metode Operasi Pria (MOP) dan tubektomi atau dikenal dengan Metode Operasi Wanita (MOW) yang diikuti 39 wanita yang ikut MOW dan 2 pria yang ikut MOP.

Baca juga: Metode kontrasepsi jangka panjang dinilai paling efektif

Pewarta: Budi Santoso
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar