counter

Pertemuan IMF-WB

Presiden ADB temui Jokowi tawarkan 1 miliar dolar AS bantuan bencana

Presiden ADB temui Jokowi tawarkan 1 miliar dolar AS bantuan bencana

Presiden Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menawarkan dana bantuan tanggap darurat bencana di Sulteng. (Hanni Sofia)

depresiasi baru-baru ini terhadap rupiah adalah karena dorongan spekulasi, karena posisi makroekonomi Indonesia secara keseluruhan masih kuat
Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Presiden Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menawarkan dana bantuan tanggap darurat bencana di Sulteng sebesar 1 miliar dolar AS.

Presiden ADB Nakao bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara khusus di sela pertemuan tahunan IMF-WB di Nusa Dua, Bali, Jumat.

"Saya sangat mengapresiasi pertemuan dengan Presiden Jokowi di tengah padatnya jadwal dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB ini. Dan saya mengawali ucapan duka cita saya yang mendalam atas bencana yang terjadi," kata Nakao setelah pertemuan tersebut.

Presiden Nakao menawarkan bantuan tanggap darurat senilai hingga 1 miliar dolar AS untuk mendukung keperluan anggaran yang dibutuhkan secepat mungkin dan upaya rekonstruksi di daerah terdampak. 

Terkait dukungan darurat, Presiden Nakao menyampaikan pada Presiden Joko Widodo bahwa selain pinjaman bantuan anggaran darurat hingga senilai 500 juta dolar AS, ADB juga siap memberi pembiayaan tambahan sekitar 500 juta dolar AS melalui pinjaman proyek untuk mendukung rekonstruksi infrastruktur yang sangat penting, termasuk pasokan air dan sanitasi, sekolah, jalan dan jembatan, serta jaringan listrik. 

Bantuan darurat 1 miliar dolar AS tersebut di luar program pinjaman reguler ADB bagi Indonesia yang rata-rata mencapai 2 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Pinjaman bantuan darurat ADB akan disiapkan dengan berkoordinasi dengan pemerintah, masyarakat yang terdampak, dan para pemangku kepentingan lainnya, serta diproses secara cepat untuk dapat segera disetujui Dewan Direktur ADB. 

Pinjaman tersebut akan memiliki ketentuan khusus berupa masa tenggang 8 tahun dan masa pembayaran kembali selama 32 tahun atau lebih lama daripada biasanya. 

ADB juga akan memberi bantuan teknis guna mendukung kajian kebutuhan kerusakan yang dipimpin pemerintah, dan juga perencanaan pemulihan dan rekonstruksi.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Nakao menegaskan dukungan ADB terhadap Indonesia melalui pinjaman proyek di berbagai sektor termasuk energi, pengembangan keterampilan, irigasi, dan pengembangan kawasan perbatasan, serta pinjaman berbasis kebijakan dengan matriks kebijakan untuk mendukung manajemen sektor publik dan iklim investasi. 

Selain pinjaman pada pemerintah, operasi sektor swasta ADB menyediakan pinjaman pada proyek-proyek sektor swasta yang strategis termasuk energi panas bumi.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi didampingi oleh sejumlah menteri di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan dan Gubernur ADB Sri Mulyani Indrawati, serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Dalam pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo, Presiden Nakao memuji manajemen makroekonomi Indonesia yang baik. 

Ia menekankan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia sebagaimana ditunjukkan dengan proyeksi kuatnya tingkat pertumbuhan PDB pada 5,2 persen dan tingkat inflasi yang stabil pada 3,4 perseb di 2018. 

Ia menyatakan bahwa defisit transaksi berjalan sekitar 2,5 persen masih terkelola dan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal pada sekitar 2 persen dari GDP patut diapresiasi.

Cadangan devisa tetap dijaga pada tingkat yang cukup dan Indonesia mendapatkan peringkat layak investasi di pemerintahan ini.

“Depresiasi baru-baru ini terhadap rupiah adalah karena dorongan spekulasi, karena posisi makroekonomi Indonesia secara keseluruhan masih kuat," katanya.

Sebelumnya pada 8 Oktober, ADB telah menyetujui hibah darurat senilai 3 juta dolar AS yang berasal dari Dana Tanggap Bencana Asia Pasifik (Asia Pacific Disaster Response Fund) ADB untuk mendukung upaya pemberian bantuan dengan segera di Sulawesi Tengah.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, sambil melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. 

Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota dari 48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia. 

Pada 2017, operasi ADB mencapai 32,2 miliar dolar AS termasuk 11,9 miliar dolar AS dalam bentuk pembiayaan bersama (cofinancing).

Dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, Presiden Nakao juga bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Baca juga: Wapres: Ada banyak tenaga kerja dibutuhkan untuk rekonstruksi-rehabilitasi Sulteng

Baca juga: Bank Dunia tawarkan hibah 5 juta dolar AS untuk rekonstruksi Sulteng

Baca juga: Sekjen PBB sampaikan dukacita untuk korban gempa Palu-Donggala

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar